Oleh: Muhtar Sadili
Dalam pandangan banyak ilmuan muslim, setiap individu merupakan figur sentral dalam sistem ekonomi. Karena individulah yang akan menanggung sendiri perbuatnnya. Baik di dunia maupun di hari kemudian kelak.
Namun, kemerdekaan individu tersebut harus mampu memperjuangkan kehidupan sosial yang penuh dengan kosakata kesejahteraan. Kemerdekaan individu ini merupakan ujian nyata; apakah sistem sosialnya baik ataukah buruk dan seberapa jauh sistem tersebut membantu atau menghalangi peningkatan kualitas individu.
Spiritualitas Bekerja
Islam menaruh penghargaan yang tinggi atas kemampuan wirausaha. Islam lebih menghargai seseorang yang melakukan usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, dibandingkan menggantungkan begitu rupa pada belas kasihan sesama.
Sebagai contoh, kisah Ab¬durrahman bin Auf yang sangat dikenal piawai dalam berniaga dan di¬segani karena termasuk orang kaya Mekah, tapi rela meninggalkan seluruh kenikmatan harta dan status sosialnya dengan hijrah ke Madinah. Ketika ditawari berbagai fasilitas oleh Sa'ad bin Rabi, sahabatnya yang merasa prihatin, tapi dengan halus Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan berdo'a sambil berkata: 'cukuplah bagiku, engkau tunjukkan pasar'.
Sikap sahabat nabi ini adalah cermin ideal etos kerja Islami, 'kerja adalah kenisayaan sekaligus ibadah'. Keniscayaan bekerja itu sebagai manifestasi dari anugrah daya yang di¬berikan Allah swt., yaitu berupa fisik yang menghasilkan ke-giatan fikiran untuk ilmu pengetahuan. Kalbu yang mampu berkhayal, mengekspresikan keindahan, beriman, dan merasa, serta berhubungan dengan Allah swt. Dan yang paling penting daya itu bisa menghasilkan semangat juang, kemampuan menghadapi tantangan dan menanggulangi kesulitan.
Bekerja adalah mata rantai dari sikap keislaman kita yang setiap hari diucapkan ketika shalat. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku hidup dan matiku kesemuanya adalah untuk Allah, pemelihara se¬luruh alam” Ini dikuatkan dengan misi penciptaan manusia untuk ibadah.,“Dan sesungguhnya Aku tidak menciptakan jin dan manu¬sia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz¬-Dzariyat/51: 56).
Spirit kerja sebagai ibadah ini, ternyata ditemukan juga di dalam spirit kapilitasme. Adalah Weber yang melihat etika protestan di Jerman pada tahun 1905, terutama sekte Calvinis, se¬bagai yang mempengaruhi kebangkitan kapitalisme. Takdir bagi kaum Calvinis setali tiga uang dengan semangat kerja itu sendiri, karena takdir Tuhan hanya diperuntukkan bagi hamba pilihan yang menempatkan kerja di setiap motivasi kehidupan.
Islam sendiri sebenarnya datang lebih dahulu dengan etos kerjanya yang dikenal sangat giat seperti yang diuraikan di atas tadi. Pematangan jiwa enterpre-neurship lewat piranti teologis ini, menegaskan etos kerja dalam Alqur’an akan berban¬ding lurus dengan mentalitas setiap orang. Struktur berfikir atas alam pikiran manusia merupakan bagian terpenting dari kesadaran manusia di dalam upa¬ya untuk mengubah atau menentukan sejarah dalam memaknakan dunia
Manusia adalah makhluk yang sengaja diberikan bendera khalifah di bumi, karena cara berfikirnya yang akan mempengaruhi apa yang akan dikerjakannya. Dalam wahyu pertama yang diturunkan pada Nabi kita mendapatkan perintah untuk membaca dan menarik nilai dari ilmu pengetahuan-Nya untuk memberikan kemakmuran untuk seru sekalian alam [QS Al’Alaq/196:1-5].
Kesempurnaan Bekerja
Islam adalah agama yang memusatkan diri pada ¬aspek ketuhanan yang diteguhkan dengan kalimat syahadat, tapi jangan lupa, Islam mempunyai komitmen yang kuat untuk kepentingan kemanusiaan universal. Analisis sosio-ekonomi etos kerja harus memadukan aspek ketuhanan-kemnusiaan. Kuntowijo¬yo (1995), seorang yang banyak berjasa dalam memberikan kerangka kerja 'ilmu sosial provetik' itu, selalu menekankan pentingnya penyatuan "amal" sebagai term Alqur’an untuk aktifitas manusia dalam memenuhi kebutuhan manusia untuk melaksanakan misi khalifah di bumi dengan 'kerja' yang ada dalam nalar sekuler.
Hal ini juga akan berimplikasi dengan sistem ekonomi. Islam telah menempatkan manusia unsur pertama dan menyisihkan modal dan kerja. Karena kemiskinan ruhani lebih berbahaya dari kemiskinan materi bagi setiap individu muslim dalam menggapai tujuan hakiki. Dengan penekanan pada kekayaan ruhani, Islam mewujudkan 'aku' manusia dari 'unsur-unsur dalam' yang ada pada dirinya, berbeda dengan pandangan materialisme yang menjadikan 'aku' manusia bersumber dari 'luar' dirinya, yakni alam materi – modal dan kerja. Pandangan materialisme ini melahirkan sekian banyak dampak negatif yang tidak akan sesuai dengan jati dirinya
Inilah yang dapat kita baca dalam kecenderungan kapitalisme mutakhir yang menempatkan matrialisme sebagai ajudan setiap aktifitas manusia. Ekonomi Islam hadir untuk memberikan jalan keluar dari wajah bopeng kapitalisme yang telah melahirkan pemanfaatan begitu pula pada segelintir orang dan kecongkakan sosialisme yang menguras kebebasan setiap individu sehingga tidak lagi mendapatkan keakyaan spiritualnya.
Kita sepenuhnya bisa memahami bagaimana 'tesis Weber' telah melahirkan kesimpulan bahwa etika protestan telah mampu mengerek etos kerja. Tapi kita juga patut jeli atas perkembangan kapitalisme mutakhir yang tergelincir pada pemuasan material yang sangat bertolak belakang dengan misi profetik kekhalifahan di bumi untuk memberikan rahmat seru sekalian alam (rahmatan lil'alamin).
Dengan kata lain, untuk menguji kebenaran tesis Weber ini diperlukan kearifan dalam melihat tujuan ter¬akhir dari semua yang kita lakukan. Dalam Islam kesuksesan seorang terletak pada visi yang diarahkan untuk menjadikan hidup penuh arti. Pribadi muslim dilumuri oleh etos kerja yang tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandaskan pada suatu keyakinan yang sangat mendalam bahwa bekerja itu adalah ibadah.
Terdapat semacam panggilan suci untuk terus memperbaiki diri dalam usaha pengabdian pada ummat. Secara metaforis, telah kecanduan untuk beramal saleh, karena jiwanya gelisah apabila dirinya tidak segera berbuat kesalehan.
Entrepreneurship di mata Islam adalah manifestasi dari khalifah manusia di bumi. Islam hadir dalam suasana bangsa Arab yang mempunyai aktifitas dagang yang sangat terkenal. Nabi Muhammad telah memberikan warna perniagaan yang untuk ukuran zaman sangat modern; jujur dan selalu menjadikan kepuasan bagi semua pihak. Terdapat nilai untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada indivdu untuk memilih mana yang paling sesuai de¬ngan batas kemampuannya. Tapi ini, tetap menekankan 'kekayaan spiritual' setiap ummatnya.
Kebangkitan kapitalisme dengan segala resikonya, hanya mengantarkan masyarakat Barat pada sikap hedonistik, individualistik sekaligus merontokkan misi profetik etika protestan yang kerap dikenal dengan tesis “Weber itu". Pemuja kapitalisme tidak mampu keluar dari jerat kecintaan material.
Rohani Islam
Entrepreneurhsip di Mata Islam
Tradisi Menulis Dalam Islam
Menulis dalam Islam merupakan suatu kewajiban setelah perintah untuk membaca(belajar, meneliti dan menelaah). Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Dalam perkembangannya, menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam.
Semua ulama yang menjadi arsitek kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Eropa yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam. Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi membaca dan menulis yang pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan.
Menulis Sebagai Ibadah
Faktor yang harus dijadikan sebagai pijakan dasar untuk menulis adalah orientasi yang jelas. Menulis harus ada orientasi ke-akhiratan, artinya kegiatan menulis harus bisa bernilai ibadah. Tatkala hal ini telah terpenuhi maka aktifitas menulis akan menjadi suatu kenikmatan tersendiri yang bahkan akan membuat para penulis semakin termotivasi untuk menulis.
Disamping itu, menulis merupakan pekerjaan yang sangat mulia karena ia mengambil peran kenabian dalam hal menyampaikan berbagai kebenaran yang masih tersembunyi kepada khalayak ramai/publik(umat). 4 (Empat) sifat Rasul adalah etika yang mesti dipenuhi oleh seorang penulis. Pertama, ‘Shiddiq’ atau benar. Seorang penulis harus menyampaikan kebenaran dalam isi tulisannya.
Kedua, ‘Tabligh’ atau menyampaikan. Kegiatan menulis adalah bagian dari interpretasi dan transmisi sifat tabligh ini. Disamping itu, kewajiban untuk menyampaikan bagi seorang penulis bisa dimaknai sebagai etika membuat sebuah tulisan, agar sebuah tulisan bernilai ibadah/pahala disisi Allah maka tulisan itu harus mengandung nilai kebenaran dalam penyampaiannya.
Ketiga, ‘Amanah’ atau terpercaya. Tulisan yang disajikan harus memenuhi kualifikasi amanah, hal ini bisa dilakukan jika penulis itu sendiri adalah seorang yang memiliki karakteristik ‘amanah’ atau terpercaya, artinya ia tidak hanya pandai menulis, menasehati atau mengkritik orang lain, tapi juga berupaya agar ia mampu menyelaraskan antara perkataan dan perbuatannya. Merupakan dosa besar jika memerintahkan orang lain mengerjakan suatu kewajiban sementara dia sendiri tidak mengindahkannya.
Keempat, ‘Fathanah’ atau cerdas. Seorang penulis harus memenuhi persyaratan ‘cerdas’ dalam menulis. Hal ini bisa dipahami karena menulis tanpa ilmu akan menyebabkan berkurangnya unsur-unsur kebenaran yang tersampaikan, atau bahkan jauh sama sekali dari kebenaran, dan bisa diprediksi pada akhirnya syaithan-lah yang akan menjadi gurunya. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menulis tanpa membaca berarti kita menyampaikan sesuatu tanpa dasar yang valid dan otentik yang pada satu waktu tertentu akan membuat kita menyampaikan suatu kekeliruan yang fatal. Sebaliknya, membaca tanpa menulis berarti membiarkan apa yang ada di dalam otak kita tak tereksplorasi dengan sempurna.
Tulisan Rancang Peradaban
Sebagaimana sudah dijelaskan diatas, bahwa menulis dalam Islam adalah “kewajiban” kedua setelah perintah untuk “membaca”. Menulis berarti menyimpan apa yang telah kita baca dalam sebuah media yang bisa diakses oleh siapa saja. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dengan tulisan, kita bisa berdakwah(menyebarkan kebenaran), mengajari, menyebarkan ide dan pemikiran, melontarkan gagasan, menyampaikan kritikan atau hanya sekedar memberi tanggapan. Sebaliknya, dengan tulisan seseorang bisa juga menyebarkan kebatilan, merusak moral, mem-provokasi, menghina, menghasut, memfitnah, dan berbagai propaganda yang akan membawa kepada kehancuran lainnya.
Dengan tulisan, seseorang bisa mencoba merancang dan merumuskan bentuk peradaban dan masa depan impian atau kehidupan ideal yang didambakan. Banyak bukti sejarah yang membenarkan asumsi ini. Misalnya; bagaimana dahsyatnya kekuatan novel ”Ayat-ayat Cinta” dan ”Ketika Cinta Bertasbih” karya Habiburrahman El-Shirazy sanggup membius ribuan remaja Muslim Indonesia, putra dan putri dengan berbagai pesan Islamnya, sehingga banyak sekali diantara mereka yang bermimpi dan berjuang menjadi jelmaan(reinkarnasi) tokoh-tokoh yang digambarkan dalam novel tersebut, seperti Fahri, Azam dan sebagainya. Dalam novel tersebut mereka digambarkan sebagai aktor yang benar-benar mengaktualisasikan nilai-nilai Islam ke dalam realita kehidupan sesungguhnya. Pribadi mereka diungkapkan bak seorang aulia yang memiliki akhlak paripurna.
Hasan Al-Banna pendiri organsisasi ”Ikhwanul Muslimin” di Mesir juga pernah menulis berbagai wasiatnya kepada umat Islam. Tulisan-tulisan yang pada akhirnya dibukukan itu sanggup membangkitkan semangat dan gelora pergerakan Islam(Harakah Islamiah) diberbagai di berbagai belahan penjuru dunia untuk bangkit mengejar ketertinggalan dengan tanpa melepaskan nilai-nilai Islam sebagai prinsip hidup yang konsepsional dan fundamental. Kita tahu, bahwa kumpulan tulisan Hasan Al-Banna dalam bentuk surat wasiat yang kemudian diberi nama ”Majmu’ Rasail” itu, ternyata sanggup membangkitkan kembali semangat jihad umat Islam melawan berbagai bentuk penjajahan. Saat ini, hampir semua pergerakan Islam di dunia lahir karena terinspirasi dari kekuatan perjuangan, teladan dan surat wasiat Hasan Al-Banna tersebut.
Begitu juga buku-buku yang dikarang oleh penulis berkaliber dunia lainnya, seperti; Yusuf Al-Qardhawy dan penulis berkaliber dunia lainnya yang mengupas berbagai persoalan kekinian umat Islam. Buku-buku beliau tersebut kita ketahui saat ini telah dijadikan sebagai referensi(buku pegangan) wajib maupun sekedar buku pendukung materi kuliah oleh para mahasiswa di berbagai perguruan tinggi Islam di hampir seluruh dunia. Buku-buku tersebut memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam rangka merintis berbagai transformasi sosial dunia Islam ke arah yang lebih maju. Pun demikian dengan tulisan atau opini-opini yang dimuat di berbagai media yang diyakini juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam membawa umat ke arah perubahan menuju Indonesia yang diimpikan.
Contoh lainnya adalah; Samuel Huntington yang menulis ”disertasi” doktoralnya tentang ”Benturan Peradaban”, antara peradaban Barat(Kristen, Yahudi dan sebagainya) dengan peradaban Dunia Timur(Islam). Disertasi tersebut pada akhirnya kita ketahui menjadi rujukan Dunia Barat dalam menilai dan menyikapi kebangkitan dunia Islam(as-shahwah Islamiah). Huntington meyakini dan menulis angan-angannya bahwa setelah Amerika memenangkan Perang Dunia II, maka lawan mereka berikutnya yang akan dan harus dihadapi adalah ”umat Islam”. Efek besar dari tulisan (disertasi) Huntingtin tersebut kini menjadi aksi nyata eksistensi dunia barat yang dirasa oleh hampir semua umat Islam diseluruh bagian dunia. Hampir disemua lini dan segmentasi tatanan kehidupan negara-negara Islam berada dibawah cengkeraman Amerika-Barat.
Bahkan, selain negera-negara Islam yang terjajah secara pendidikan, ekonomi, akhlak-moral dan politik, teori dan pemikiran Huntington tersebut juga terwujud nyata dalam penjajahan sungguhan negara Barat terhadap dunia Islam. Misalnya; penjajahan Amerika dan sekutunya di Afghanistan, Irak dan sebagainya. Kekuatan sebuah tulisan kadangkala juga bisa bernada fitnah atau propokasi sehingga bisa mengajak kepada pertumpahan darah dan kehancuran. Misalnya; ”Ayat-Ayat Setan” karya Salman Rushdi, seorang penulis keturunan Pakistan yang bermukim di Inggris. Tulisannya pernah memancing kemarahan umat Islam di seluruh dunia, penyebabnya adalah karena dalam bukunya tersebut ia menghina Muhammad Saw sang Rasul umat Islam. Begitu juga Freddy S, seorang novelis yang menulis berbagai novel seksual dan vulgar di nusantara yang banyak mengumbar nafsu syaithani. Novel-novelnya tersebut sangat ampuh untuk menghancurkan moral dan akhlak generasi Islam dan putra putri bangsa Indonesia secara umum.
Inilah sekilas gambaran singkat dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa membawa kepada kebangkitan sebuah peradaban, atau sebaliknya kepada kehancuran moral dan semua tatanan kehidupan umat manusia lainnya. Ketika tulisan-tulisan yang mengajak kepada kebenaran menjadi minim maka tulisan-tulisan kehancuran akan bertaburan dan menghancurkan.
Kekuatan ”Menulis” dalam Sejarah Islam
Menulis memiliki peran yang sangat urgen dalam sejarah kejayaan umat Islam beberapa abad silam. Semua ulama yang menjadi arsitek peradaban dan kejayaan Islam masa lalu adalah para penulis ulung yang telah menghasilkan berbagai buah karya mereka yang sampai saat ini masih menjadi rujukan umat Islam sedunia dalam berbagai disiplin keilmuan. Bahkan, Barat yang kemajuannya hari ini telah jauh meninggalkan dunia Islam ternyata pernah mengekor pada kemajuan umat Islam masa silam.
Dalam sejarah Islam, akan kita dapati pakar-pakar keilmauan mayoritas adalah para ulama. Kedokteran, geografi, oftik, kartografi, farmasi, kimia, astronomi, matematika, dan yang lainnya. Patut untuk di banggakan, ketika Eropa di abad pertengahan hanya memiliki seorang jenius bernama Leonardo da Vinci yang mumpuni dalam beberapa bidang keilmuan, ternyata umat Islam memiliki puluhan tokoh yang memiliki multiple intelligence. Sebagai contoh, kejeniusan Ibnu Sina dibidang kedokteran menghasilkan karya menumental Al-Qanun Fi Ath-Thibbi, Asy-Syifa dan yang lainnya. Ibnu Rusyd yang faham dengan sangat baik filsafat Yunani, sehingga mampu memberikan koreksi dan catatan kaki atas kekeliruan yang ada didalam buku mereka ternyata juga seorang faqih yang dari tangannya lahir Bidayah-Al-Mujtahid, sebuah rujukan perbandingan madzhab dalam ilmu fiqih yang sampai sekarang tetap diperhitungkan. Belum lagi Al-Khawarizmi pencipta Al-Jabar (ilmu ukur/Matematika) yang fenomenal, Al-Haitsam Bapak ”optik” sekaligus penemu Kamera Analog. Al-Idrisi bapak kartografi dari pulau Sisilia. Al-Biruni, Ibnu Khaldun, dan tokoh-tokoh Islam lainnya.
Galileo yang terkenal dengan teleskopnya ternyata kalah awal oleh ulama-ulama di Baghdad yang telah lebih dahulu menciptakan observatorium untuk mengamati pergerakan dan fenomena bintang- bintang. Al-kohol, al-kalin, sinus, kosinus, tangent, azimuth, natir dan istilah-istilah lain dalam berbagai disiplin ilmu lahir dari rahim keilmuan kaum muslimin. Begitu pula dibidang Fiqih, Hadits, Tafsir, Ilmu Kalam, dan sebagainya. Semua itu hadir karena mereka memegang teguh tradisi keilmuan, yaitu menulis disamping tradisi membaca pada sisi yang lain.
Dan berbagai kemunduran umat Islam dewasa ini bisa dipastikan karena tradisi menulis setelah membaca yang pernah dipopulerkan oleh para ulama masa lalu telah ditinggalkan. Umat Islam malas ”membaca dan menulis”. Melalui tulisan diyakini peradaban impian akan bisa diraih. Melalui tulisan fakta mengatakan sebuah kemajuan akan bisa dicapai. Melalui tulisan jelas kebenaran akan mudah tersampaikan.
Sampai disini, kita bisa membayangkan bagaimana dahsyatnya kekuatan sebuah tulisan. Ia bisa menjadi senjata melawan kezaliman ketika meriam telah dihancurkan, ketika senapan dan mesiu telah tenggelam dalam lautan. Maka, adalah wajar jika di era ”Orde Baru” Soeharto yang mantan presiden kita itu begitu gencar memberangus dan mengejar-ngejar para penulis. Sebab, Soeharto meyakini kekuatan pena lebih dahsyat daripada senapan, lebih tajam daripada ujung pedang. Maka, ketika kita ”malas menulis” yang akan terjadi adalah berbagai ketimpangan dan bahkan penjajahan. Wallahu a’lam bisshawab.
*Disadur dan disesuaikan dari tulisan Teuku Zulkhairi
Menata Waktu, Menuai Sukses
Siapa sih yang nggak kenal waktu? Pasti nggak ada. Anak kecil aja tahu. Makanya waktu dikenal tiap orang. Apa pun makanannya, eh profesi atawa kerjaan kita, pasti waktu ikut ngerecokin.
Bagi redaksi waktu berarti deadline yang bisa bikin kepala redaktur berasap ngejar naskah biar kelar. Buat kaum pekerja, biasanya mereka inget waktu pas mo pulang, libur nasional, ama tanggal gajian. Nah, kalo yang statusnya pelajar atawa mahasiswa, waktu identik dengan SKS alias Sistem Kebut Semalam ngerjain tugas. Bentuk waktu yang abstrak nggak bikin doi tiada arti. Bagi yang bisa menghargainya, kesuksesan bakal didapet. Sementara bagi yang suka ngacangin doi, tahu sendiri akibatnya. Under pressure euy!
Sayangnya, waktu lebih sering berstatus kambing hitam dari pada dewa penolong. Kalo kerjaan belon kelar atawa tugas sekolah ngaret beresnya, pasti deh waktu yang disalahin. Mepetlah. Terlalu pendeklah. Atawa nggak ada waktu luang. Kasian deh sang waktu. Kebagian apes mulu. Nah, biar nggak nyalahin waktu mulu, nggak ada ruginya dong kalo kita bahas tentang waktu. Biar hidup kita lebih bermutu!
Remaja dan waktu
Pinggir jalan menjadi lokasi yang paling banyak digandrungi anak muda buat ngumpul. Kalo nggak percaya boleh tanya Sony Tulung (deuuu....). Selain tanpa ongkos, bisa cuci mata, dan sekalian test vokal bermodalkan gitar pinjeman plus galon air mineral yang dipaksa jadi gendang. Kali aja ada produser yang lewat, terus tertarik ama vokalnya. Kan lumayan buat dubbing film Charlie Chaplin tuh! Huhuy!
Kian hari, kegiatan nongkrong seperti di atas kian banyak peminatnya. Tiada waktu dan tempat strategis yang steril dari anak nongkrong. Pagi-pagi mereka udah nongkrong di toilet. Berangkat sekolah udah mangkal di halte atau pinggir jalan nungguin angkot. Waktu istirahat sekolah yang cuma seperapat jam juga nggak boleh lolos dari aksi mejeng di kantin. Di mana pun, kapan pun, always mejeng en main-main. He..he..he..
Pulang sekolah giliran mal, plaza, atau pusat perbelanjaan yang kudu rela ditongkrongin mereka. Sampe rumah langsung deh betah nongkrongin Nirina atau Arie di MTV. Malemnya giliran La Liga , Lega Calcio , Liga Inggris Premiere atau Bundesliga yang ditongkrongin. Kalo perlu ampe dini hari. Wuiih…segitunya.
Besoknya, meski jam beker yang diset pukul 5 pagi ampe serak berteriak ngeba-ngunin, eh, bangun pukul 7 teng. Padahal masuk sekolah 7.15. Akhirnya waktu yang cuma lima belas menit itu dipake buat gosok gigi, cuci muka, cuci baju, eh cuci tangan trus cabut. Boro-boro mikirin sholat atawa sarapan.
Sampai di kelas pelajaran pertama udah dimulai. Pas ditanya pak guru kenapa datang telat? Jawabnya: “abis…waktu masuknya sih pak kependekan. Coba masuknya pukul delapan-an gitu, pasti deh nggak kesiangan.” Nah lho? Udah waktu luangnya dicuekkin, eh giliran kena batunya, waktu juga yang disalahin. Walah?
Sobat muda muslim, fenomena di atas cuma salah satu contoh dari sekian banyak kegiatan yang sering kita kerjain tapi miskin manfaat. Kita selalu ada waktu untuk bermain, ngeceng, ‘no-mat' di twenty one , atau untuk window shopping di pusat perbelanjaan. Tapi kita sering ngerasa berat ngasih waktu kita meski sejenak untuk belajar, berdakwah, hadir di penga-jian, atau membantu orang tua di rumah. Acara malem mingguan udah disiapin seminggu sebelumnya. Se-mentara untuk ngerjain tugas sekolah atau beribadah kudu nunggu sampe waktu mepet. Alasannya sibuk. Sebenernya, kita nggak punya waktu luang atau nggak mau meluangkan waktu? Hayoo…!
Pasti kita udah pernah ngerasain gimana sengsaranya ngerjain tugas dikejar-kejar waktu. Budaya SKS seolah udah mendarah daging. Begadang sampe larut ditemani sebungkus Star Mild , segelas Nescafe , dan hentakan musik Superman is Dead yang memecah keheningan malam. Malah kita ngerasa bangga dan hebat dengan hasil kerja kita yang digeber semaleman. Karena waktu luang kita abis buat maen. Padahal kita juga yang rugi. Payah deh!
Waktu bagi seorang Muslim
Sobat muda muslim, udah dari sononya sang waktu akan terus berjalan bagaikan awan. Kadang kita suka bilang kalo waktu berlalu begitu cepat saat kita lagi happy . Baru kemaren naek kelas, eh, sekarang udah siap ngadepin ujian semester. Baru minggu kemaren kita gajian, minggu berikutnya udah siap-siap kasbon. Kita juga sering bilang kalo waktu jalannya lelet abis pas kita lagi sedih. Berlarut-larut dalam kesedihan. Padahal, itu semua cuma perasaan kita aja. Asli. Kalo nggak per-caya, coba aja perhatiin. Sampe kiamat pun, satu hari akan tetep 24 jam, 1440 menit, 86400 detik. Meski kita lagi sedih atau happy . Bener nggak seh?
Waktu yang udah kelewat pasti nggak bisa balik lagi. Meski udah di- undo beberapa kali (emangnya program Windows? ). Di mana aja kita cari, waktu yang hilang nggak ada gantinya. Karena itulah waktu menjadi sangat ber-harga buat kita. Lebih berharga dari harta ter-mahal yang kita punya. Kita kudu pandai-pandai menjaga dan meman-faatkannya. Jangan sampe nasi keburu menjadi bubur terus pancinya kesenggol kucing dan tumpah di lantai dapur yang kotor. Rugi banget kan?
Makanya Rasulullah saw. ngingetin kita melalui sabdanya: “Jika kalian bangun di pagi hari, janganlah mengharap akan (hidup) sampai sore; dan jika berada di waktu sore jangan berharap akan (hidup) sampai besok pagi. Pergunakan masa sehatmu untuk (mempersiapkan) masa sakit, dan masa hidup untuk (menyiapkan bekal) kematian, seakan-akan kalian tidak tahu nama kalian besok pagi.” (HR Bukhari)
Banyak yang bisa kita kerjain untuk memanfaatkan waktu. Saking banyaknya kadang kita bingung mana dulu yang musti diutamain. Sebagai seorang muslim, tentu kegiatan yang kaya manfaat dunia akhirat kudu jadi prioritas. Mumpung masih muda yang full tenaga en menggelora semangatnya. Supaya tiap hari ada peningkatan amal ibadah kita. Ini bisa kita dapetin kalo kita mau terus belajar. Baik wawa-san Islam atau pun ilmu umum. Isi hari-hari kita dengan berlomba-lomba dalam kebaikan ( fasthabiqul khairat ).
Nah, untuk urusan belajar dan fasthabiqul khairat , jangan sampe ditunda-tunda. Sebisa mungkin dikerjain sekarang, jangan tunggu besok. Karena kita nggak akan tahu apa yang bakal terjadi esok hari. Bisa jadi kita sakit atau pas jadwalnya ‘didatengin' malaikat Ijrail. Wah?
Belajar dari para ulama
Waktu adalah sohib terbaik yang bakal nganterin kita menuju kesuksesan kalo kita bisa menghargainya. Dalam buku berjudul “ Nilai Waktu ”, sang penulis, Abdul Fattah Abu Ghuddah memaparkan kisah sukses para ulama Shalaf dan Khalaf yang menghargai waktu.
Bagi mereka, nggak ada yang lebih berharga dibandingkan waktu. Seperti dalam kisah Muhammad bin Salam, guru dari Imam Bukhari. Suatu kali ia asyik mendengar pelajaran dari gurunya, tiba-tiba pensil yang lagi dipake patah. Kontan ia langsung teriak “siapa yang menjual pensil, aku akan membayarnya seharga satu dinar (mata uang berbentuk koin seberat 4,25 gr emas)!” Kalo diitung-itung, misal harga 1 gr emas = Rp 80 ribu, doi berani bayar Rp 340 ribu untuk sebuah pensil biar nggak ketinggalan pelajaran.
Mereka juga benci dengan orang-orang yang menyia-nyiakan waktu. Malah Imam Syafi'i mengatakan orang yang kayak gitu, matinya lebih baik daripada hidupnya. Karena orang itu telah melewatkan peluang emas untuk ber-ibadah dan menabung pahala. Kalo gitu, apa bedanya dengan orang mati yang nggak punya kesempatan lagi buat nabung pahala? Catet!
Nggak heran kalo Ibnu Taimiyah sampe minta seseorang untuk membacakan kitab dengan suara keras. Agar dia bisa men-dengarnya dan nggak ada ilmu yang kelewat ketika dia sedang di dalam kamar mandi!
Saking tingginya penghargaan mereka terhadap waktu, diki-sahkan bahwa para ulama itu membiasakan sedikit makan dan tidur. Karena banyak makan bakal bikin ngantuk. Dan kalo udah ngantuk, pasti bawaannya males ngapa-ngapain. Apalagi untuk belajar. Pengennya tidur mulu. Padahal banyak tidur, menurut al-Qadhi Iyadh, merupakan ciri orang yang lemah dan nggak mau peduli ama urusan dunia akhirat. EGP banget tuh!
Sobat muda muslim, nggak salah kalo kisah para ulama itu banyak ngasih kita pelajaran berharga tentang waktu. Terbukti, penghargaan mereka terhadap waktu turut menjadikannya ulama terkemuka di dunia Islam. Nggak heran pula kalo mereka mampu menelorkan karya-karya yang spektakuler. Ambil contoh, tafsir buah tangan Abu Bakar Ibn al-Arabi berjudul Anwarul Fajr yang tebalnya sampe 80.000 halaman. T-O-P B-G-T deh!
Bikin hidup lebih bermutu
Kebayang nggak sih berapa banyak waktu yang udah kita sia-siakan sampe sekarang? Udah gitu, minim pula dari kegiatan untuk dunia dan akhirat. Padahal berapa banyak ilmu yang bakal kita dapet. Keterampilan yang bisa kita pelajari. Atau tabungan pahala yang dicicil tiap hari. Kalo kita sempatkan waktu untuk baca buku, mengulang pelajaran di sekolah, belajar komputer, bantu orang tua, ikut pengajian, puasa sunat, shalat sunat, atau berdakwah? Banyak buanget manfaatnya!
Nah, kalo kita pengen sukses, udah saatnya kita pake waktu yang Allah kasih sebaik-baiknya. Sebelum gigi kita pada ompong, kulit kita pada keriput, usia kita kian lanjut, dan ajal datang men-jemput. Mengisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Mulai mengenali bidang yang pengen kita geluti lebih jauh. Jangan biarkan kegiatan bikin tulisan, memasak, menjahit, ngoprek komputer, atau ngotak-ngotik motor cuma jadi hobi. Berikan waktu khusus dalam hidup kita untuk mempelajarinya. Percaya nggak percaya, di masa depan itu banyak membantu kita.
Tapi jangan sampe kelupaan ama tugas kita untuk beribadah kepada Allah ya? Kita bisa menabung pahala dengan selalu mengikuti aturanNya. Semakin kita dekat denganNya, semakin sayang Allah ama kita. Itu artinya, Dia akan selalu memberikan yang terbaik buat kita.
Karena itu, biasakanlah untuk meng-ingatnya di waktu-waktu luang kita. Saat istirahat sekolah pagi, bisa kita isi dengan shalat dhuha. Terbangun di malam hari dilan-jutkan dengan shalat tahajjud . Lengkapi juga dengan tilawah Quran ba'da maghrib dan shubuh. Nggak cuma beribadah ritual aja, kita juga kudu mengenali ajaranNya lebih dalam dengan ikut pengajian. Ditambah memberani-kan untuk mendakwahkannya kepada orang lain.
Oke deh, sekarang kita tinggal memu-lainya. Berlomba mengukir prestasi dunia dan akhirat. Meskipun waktu kita hanya sesaat. Insya Allah itu akan mendatangkan manfaat. Yakin deh, orang-orang yang telah sukses juga punya jumlah waktu yang sama ama kita. Seminggu 7 hari dan sehari 24 jam. Nggak lebih en nggak kurang. Pas. Karena itu berusahalah dan tetap semangat!
Sumber: Buletin Gaul Islam
Mengembalikan Kerukunan Umat Beragama
oleh: Budhy Munawar-Rachman
(Staf Pengajar Universitas Paramadina Mulya Jakarta)
Dalam tahun-tahun belakangan ini semakin banyak didiskusikan mengenai kerukunan hidup beragama. Diskusi-diskusi ini sangat penting, bersamaan dengan berkembangnya sentimen-sentimen keagamaan, yang setidak-tidaknya telah menantang pemikiran teologi kerukunan hidup beragama itu sendiri, khususnya untuk membangun masa depan hubungan antaragama yang lebih baik--lebih terbuka, adil dan demokratis.
Kita semua tahu, bahwa masalah hubungan antaragama di Indonesia belakangan ini memang sangat kompleks. Banyak kepentingan ekonomi, sosial dan politik yang mewarnai ketegangan tersebut. Belum lagi agama sering dijadikan alat pemecah belah atau disintegrasi, karena adanya konflik-konflik di tingkat elite dan militer.
Tulisan ini tidak akan membahas latar-belakang ekonomi, sosial, dan politik dari kehidupan antaragama di Indonesia belakangan ini--yang memang sudah banyak dianalisis--tetapi justru ingin kembali ke pertanyaan dasar: Adakah dasar teologis yang diperlukan untuk suatu basis kerukunan hidup beragama?
Pertanyaan ini penting, karena selama ini teologi dianggap sebagai ilmu dogmatis, karena menyangkut masalah akidah, sehingga itu tidaklah perlu dibicarakan--apalagi dalam hal antaragama. Sehingga terkesan teologi sebagai ilmu yang tertutup, dan menghasilkan masyarakat beragama yang tertutup. Padahal iklim masyarakat global dan pascamodern dewasa ini lebih bersifat terbuka dan pluralistis.
Eksklusif atau Pluralis?
Memang, dalam sejarah telah lama berkembang doktrin mengenai eksklusivitas agama sendiri: Bahwa agama sayalah yang paling benar, agama lain sesat dan menyesatkan. Pandangan semacam ini masih sangat kental, bahkan sampai sekarang, seperti termuat dalam tidak hanya buku-buku polemis, tetapi juga buku ilmiah.
Rumusan dari Ajith Fernando, teolog kontemporer misalnya masih menarik untuk diungkapkan di sini. Katanya "Other religions are false paths, that mislead their followers" (Agama lain adalah jalan sesat, dan menyesatkan pengikutnya). Ungkapan Ajith Fernando ini memang sangat keras dan langsung tergambar segi keesklusivitasannya. Dan yang menjadikan kita kaget adalah Kitab Suci ternyata dianggapnya membenarkan hal tersebut.
Pandangan eksklusif seperti itu memang bisa dilegitimasikan--atau tepatnya dicarikan legitimasinya--lewat Kitab Suci. Tetapi itu bukan satu-satunya kemungkinan. Sebagai contoh, dalam tradisi Katolik, sejak Konsili Vatikan II (1965), sudah jelaslah bahwa pandangan menjadi sangat terbuka ke arah adanya kebenaran dan keselamatan dalam agama-agama non-Kristiani.
Karl Rahner, teolog besar yang menafsirkan Konsili Vatikan II, merumuskan teologi inklusifnya yang begitu terbuka, kira-kira dengan mengatakan. "Other religions are implicit forms of our own religion" (Agama lain adalah bentuk-bentuk implisit dari agama kita). Tulisan Karl Rahner mengenai ini dibahas dalam bab "Christianity and the Non-Chrisitian Religions" dan "Observations on the Problem of the 'anonymous Christian'," dalam bukunya Theological Investigations, vol. 5 dan 14.
Dalam pemikiran Islam, masalah ini juga terjadi secara ekspresif. Walaupun dalam Islam sejak awal sudah ada konsep "Ahl al-Kitab" (Ahli Kitab) yang memberi kedudukan kurang lebih setara pada kelompok non-muslim, dan ini dibenarkan oleh Alquran sendiri, tetapi selalu saja ada interpretation away--yaitu suatu cara penafsiran yang pada akhirnya menafsirkan sesuatu yang tidak sesuai lagi dengan bunyi tekstual Kitab Suci, sehingga ayat yang inklusif misalnya malah dibaca secara eksklusif.
Perspektif Baru
Kembali pada teologi eksklusif di atas, begitulah, kita baik kaum Muslim maupun umat Kristen telah mewarisi begitu mendalam teologi eksklusif yang rumusan inti ajarannya adalah--seperti ditulis oleh filsuf agama terkemuka Alvin Plantiga--"the tenets of one religions are in fact true; any propositions that are incompatible with these tenets are false" atau John Hick, "The exclusivivits think that their description of God is the true description and the others are mistaken insofar they differ from it."
Karena pandangan tersebut, maka mereka menganggap bahwa hanya ada satu jalan keselamatan: yaitu agama mereka sendiri. Pandangan ini jelas mempunyai kecenderungan fanatik, dogmatis, dan otoriter!!!
Oleh karena itulah diperlukan suatu perspektif baru dalam melihat "Apa yang dipikirkan oleh suatu agama, mengenai agama lain dibandingkan dengan agama sendiri" Perspektif ini akan menentukan apakah seorang beragama itu menganut suatu paham keberagamaan yang eksklusif, inklusif atau pluralis. Apakah ia seorang yang terbuka atau otoriter?
Menganut suatu teologi eksklusif dalam beragama bukan hal yang sulit. Karena secara umum, sepanjang sejarah sebenarnya kebanyakan orang beragama secara eksklusif. Kalau ukurannya adalah Konsili Vatikal II, maka baru sejak 1965 lah secara resmi ada usaha-usaha global untuk memulai perkembangan teologi ke arah yang inklusif.
Dan baru belakangan ini saja berkembang teologi yang lebih pluralis--yang lebih merentangkan inklusivitas ke arah pluralis dengan menekankan lebih luas sisi yang disebut paralelisme dalam agama-agama--yang digali lewat kajian teologi agama-agama.
Teologi pluralis melihat agama-agama lain dibanding dengan agama-agama sendiri, dalam rumusan: Other religions are equally valid ways to the same truth (John Hick); Other religions speak of different but equally valid truths (John B Cobb Jr); Each religion expresses an important part of the truth (Raimundo Panikkar); atau setiap agama sebenarnya mengekspresikan adanya The One in the many (Sayyed Hossein Nasr). Di sini jelas teologi pluralis menolak paham eksklusivisme, sebab dalam eksklusivisme itu ada kecenderungan opresif terhadap agama lain.
Teologi Agama-Agama
Di antara perkembangan baru mengenai teologi pluralis ini, sekarang berkembang suatu cabang ilmu yang disebut teologi agama-agama (theology of religions). Kita perlu memperhatikan perkembangan baru ini, karena dalam teologi ini termuat suatu pijakan modern dalam membangun kerukunan hidup beragama: Suatu pijakan yang berangkat dari kesadaran pentingnya memperhatikan pluralitas dari dalam teologi itu sendiri.
Dewasa ini penerimaan atas pluralisme tidak bisa hanya didasarkan atas kesadaran bahwa kita ini adalah bangsa yang majemuk dari segala segi SARA-nya, sebab kalau ini pijakannya, maka kita sebenarnya berangkat dari kenyataan sosial yang terfragmentasi (terpecah-pecah)--yang karena itu diperlukan pluralisme sebagai cara untuk menghindari kefanatikan, jadi fungsinya hanya sebagai a negative good.
Padahal kebutuhan sekarang bukan hanya karena fakta sosiologis saja, tapi bisakah paham pluralisme itu dibangun karena begitulah faktanya mengenai Kebenaran Agama, bukan hanya karena fakta sosialnya! Pluralisme adalah bagian dari--seperti sering dikatakan Prof Dr Nurcholish Madjid--"pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban (genuine engagement of diversities within the bonds of civility).
Nah, persis sejalan dengan kebutuhan itu, teologi agama-agama bisa menjelaskan alasan teologisnya mengapa suatu agama perlu masuk dalam dialog antar-agama, yang didalamnya akan didalami bersama partner dialog, "a new depths of understanding of God's saving ways". Di sini teologi agama-agama akan mempersiapkan komunitas beragama dalam kepemimpinan teologis dalam memasuki dialog antaragama itu.
Ini penting sebab sekarang diyakini diktum: Those who know only their own religion, know mone. Those who are not decisively committed to one faith, know no others. To be religious today is to be interreligious! Jika diktum ini sudah diterima, akan lebih mudahlah memasuki dialog antaragama dan selanjutnya segi teologisnya, yang dari sini pemerkayaan iman akan sangat dimungkinkan. Usaha-usaha besar pencarian "Etika Global" dari agama-agama yang populer sejak Sidang Parlemen Agama-agama (1993), menurut saya akan jauh lebih mendasar jika berangkat dari dialog teologis, yang meneguhkan sikap paralelisme itu--yang mengekspresikan kesadaran "Satu Tuhan, dalam banyak jalan".
Saya ingin menutup artikel ini dengan kutipan dari ajaran Sufi. Para sufi tidak saja menegaskan kesatuan wahyu, tetapi juga menganggap diri mereka sendiri sebagai pelindung Islam dan pelindung agama-agama lain. Pemimpin Sufi seperti Jalal al-Din Rumi, misalnya melukiskan pandangan pluralisnya dengan menggunakan gambaran berikut.
"Meskipun ada bermacam-macam agama, tujuannya adalah satu. Apakah Anda tidak tahu bahwa ada banyak jalan menuju ka'bah?...OLeh karena itu apabila yang Anda pertimbangkan adalah jalannya maka sangat beraneka ragam dan sangat tidak terbatas jumlahnya; tetapi apabila yang Anda perimbangkan adalah tujuannya, maka semuanya terarah hanya pada satu tujuan."
Akhirnya dalam spirit kesatuan inilah, kita menghargai keberbedaan. Perbedaan agama-agama ini harus dikenal dan diolah lebih lanjut, karena perbedaan ini secara potensial bernilai dan penting bagi setiap orang beragama dalam pemerkayaan imannya.
Sumber: http://media.isnet.org/islam/Etc/Rukun.html
Islam dan Pemberdayaan Civil Society; Refleksi Pemikiran Abdurrahman Wahid
Oleh: Subairi
Greg Barton memasukkan pemikiran Abdurrahman Wahid (selanjutnya disebut Gus Dur) ke dalam aliran neo-modernis bersama Nurcholis Madjid, Ahmad Wahib dan Djohan Efendi. Salah satu karekteristik dari aliran ini adalah komitmen yang kuat kepada pluralisme dan nilai-nilai inti demokrasi. Nilai-nilai pluralistik dan demokrasi ini tertanam begitu kuat dalam pemikiran mereka sehingga terjalin begitu rupa ke dalam rajutan keyakinan sebagai nilai-nilai inti Islam itu sendiri.
Karena keyakinan inilah, Gus Dur dan para neo-modernis lain berada di garis terdepan dalam reformasi demokratis. Lahirnya kaum neo-modernis ini merupakan respon terhadap perubahan sosial yang terjadi sejak negara melancarkan proyek modernisasi dalam bidang sosial ekonomi yang kemudian menyisakan persoalan diseputar relasi Islam dan modernitas. Disamping itu, kemunculan kaum ini juga didorong oleh kebangkitan ekonomi umat Islam yang berdampak pada kemunculan intelektualisme baru.
Intelektualisme baru inilah yang disebut neo-modernisme oleh Barton. Namun, walaupun para pemikir neo-modernis sama-sama mengupayakan lahirnya sintesis harmonis antara Islam dan modernitas, tapi mereka berbeda dalam pendekatan atau jalur perjuangannya. Kemudian, secara umum kaum neo-modernis terbagi ke dalam dua pendekatan yakni sosial-kultural dan sosial-politis. Salah satu perbedaan mendasar dari dua pendekatan itu adalah jika pendekatan sosial politis lebih memilih politik formal negara seperti partai politik sebagai jalur perjuangan sedangkan sosial kultural lebih memilih institusi atau lembaga kemasyarakatan.
Islam bisa menyumbang banyak bagi pemberdayaan civil society hanya jika mengambil pendakatan sosial-kultural. Dalam hal ini, Gus Dur sebagai tokoh utama dalam pendekatan sosial-kultural yakin bahwa pendekatan sosial politis pada akhirnya hanya membiarkan Islam dikooptasi oleh negara. Sebab, wilayah politik formal hanya dijadikan alat legitimasi oleh negara. Akibatnya, jalur politik formal pada akhirnya hanya akan menyumbang pada status quo. Maka, jalur ini sama sekali tidak strategis untuk proyek demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. Karena menurut Gus Dur jalur sosial politis ini sejak awal sudah contradectio in terminis. Dia mengatakan bahwa bagaimana mereka melakukan pemberdayaan masyarakat kalau pada kenyataannya mereka menghamba kepada status quo.
Alih-alih mendukung status quo melalui instrumen institusi politik formal, Gus Dur mengatakan bahwa perjuangan ke arah demokrasi dan pemberdayaan civil society bisa terwujud jika menggunakan instrumen moral untuk menciptakan orientasi politik yang benar sebagai panglima melalui kelembagaan masyarakat independen dan mandiri. Instrumen moral ini berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi dan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Gerakan dan organisasi-organisasi Islam seharusnya memilih instrumen moral ini sebagai alat dan tujuan perjuangan. Sebab, concern perjuangan Islam dari awal memang di bidang moralitas. Bahkan, nabi Muhammad sendiri sudah mengatakan bahwa tujuan kenabiannya adalah untuk membenahi moral/akhlak manusia.
Tentu saja moral yang dimaksud disini adalah moral yang mendukung terwujudnya masyarakat yang berkeadilan, demokratis, berkedaulatan hukum, dan santun pada pluralitas sebagaimana yang telah ada pada masyarakat Islam awal. Pada dasarnya, Islam memang tidak begitu tertarik pada wilayah poltik. Kalaupun ada pernyataan Islam tidak memisahkan antara agama dan politik, haruslah diketahui bahwa yang dimaksud politik disini bukanlah politik kekuasaan dalam aras negara, tapi lebih pada politik moral. Maka, tidak heran kalau dalam Islam tidak ada aturan baku tentang pengelolaan negara. Kata negara dalam bahasa arab adalah al-Daulah yang tidak pernah ada dalam al-Quran. Yang ada dalam al-Quran adalah kata baldatun yang memiliki makna bangsa atau komunitas masyarakat. Jadi, Islam sejak semula lebih memperhatikan perjuangan moral melalui lembaga kemasyarakatan atau civil society dari pada institusi negara.
Di samping itu, Islam tidak mengenal doktrin tentang negara an sich. Kalaupun ada, itu hanya berupa prinsip-prinsip umum untuk mencapai keadilan dan kemakmuran. Maka, menurut Gus Dur, selama pemerintah bisa mencapai dan mewujudkan keadilan dan kemakmuran, hal itu sudah merupakan kemauan Islam. Fakta inilah yang tidak dipahami oleh gerakan-gerakan Islam yang memperjuangkan negara Islam yang ideologis dan idealistik itu. Padahal, Islam memiliki pandangan realistik terhadap negara. Menurutnya, Islam tidak mempermasalahkan bentuk negara selama memiliki komitmen untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran.
Pemikiran idealistik ini lahir dari sejarah masyarakat Islam yang mengalami kemunduran di bidang sosial politis sehingga melahirkan idealisasi secara keseluruhan akan peradaban Islam masa lalu, walaupun apa yang diidealisasikan itu tidak pernah real adanya. Hal ini pada gilirannya menimbulkan kecenderungan untuk melebih-lebihkan peradaban Islam dari peradaban yang lain. Kecenderungan ini terlihat nyata dalam perwatakan modernisasi Islam, yang hampir seluruhnya diarahkan kepada penciptaan sistem kehidupan masa lampau dengan baju ideologis masa sekarang. Idealisasi inilah yang telah melahirkan orientasi politik Islamis untuk mewujudkan Islamic society melalui merebut kekuasaan negara.
Menurut Gus Dur, Islam tidak mengenal negara ideal, dan juga tidak mengharuskannya ada. Allah meridhoi Islam sebagai agamamu, bukan sistem pemerintahan atau negaramu. Dengan kata lain, Islam menjadi besar kalau ia tidak menampilkan wajah politik melainkan mengutamakan wajah moralnya. Sebab, Islam mengutamakan politik sebagai moralitas, bukan politik sebagai institusi. Jadi, politik dalam Islam haruslah dimaknai sebagai politik moral untuk pemberdayaan civil society, bukan politik kekuasaan untuk menguatkan aparatur negara. Konsekuensinya, dalam konteks berbangsa dan bernegara, Islam tidak mengenal institusi politik berlabel Islam, seperti partai politik Islam. Dengan kata lain, negara menjadi “Islami” jika mengupayakan keadilan dan kemakmuran warga negaranya. Hal ini hanya bisa terwujud jika ditopang oleh tatanan moral yang integral dan utuh. Karena moralitas tidak bisa diupayakan melalui intervensi negara, maka terwujudnya negara “Islami” itu adalah tanggung jawab civil society.
Dengan demikian, yang harus dilakukan untuk memberdayakan civil society ini adalah mengubah paradigma moral dikalangan internal umat Islam sendiri. Karena, menurut Gus Dur, umat Islam saat ini sedang dijangkiti penyakit “moralitas ganda”. Dalam tulisannya berjudul Moralitas: Keutuhan dan Keterlibatan, Gus Dur mengulas dengan panjang lebar bahaya moralitas ganda ini. Menurutnya, moralitas ganda ini telah mengakibatkan dikotomi dalam sikap dan pandangan hidup Muslim modern. Dikotomi ini terutama terletak pada pemisahan antara soal-soal duniawi dan ukhrawi, dimana sikap dan pandangan si Muslim modern itu menjadi berjarak sangat jauh dalam menangani antara keduanya.
Manisfestasi paling mencolok dari moralitas ganda ini adalah kegairahan umat Islam dalam membangun masjid dan menjaga ritus keagamaan yang tidak disertai kepekaan terhadap masalah kemiskinan, pelanggaran HAM, dan korupsi. Jika paradigma ini tidak dirubah, maka Islam akan kehilangan perannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal seharusnya Islam menjadi pendorong utama untuk mewujudkan masyarakat adil makmur. Maka, perubahan paradigma moral adalah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi.
Menurut Gus Dur, moralitas yang harus dibangun adalah moralitas yang memiliki watak utama berupa keterlibatan kepada perjuangan si miskin untuk memperoleh kehidupan yang layak dan penghargaan yang wajar atas hak-hak asasi mereka. Dengan kata lain, moralitas Islam adalah moralitas yang merasa terlibat dengan penderitaan sesama manusia. Moralitas seperti ini pada gilirannya memiliki keutuhan dan melahirkan integritas yang tinggi dalam sikap dan perbuatan, yang menjadi pertanda dari ketinggian martabat seseorang. Hanya dengan cara demikianlah Islam menjadi relevan dalam kehidupan modern ini.
Tugas ini haruslah diemban oleh kaum agamawan. Karena menurut Gus Dur, salah satu fungsi agamawan dalam dinamika sosial politik adalah melakukan perubahan-perubahan dalam sikap dan pandangan dunia kalangan muslim, khususnya dalam beradaptasi dengan tantangan-tantangan modernisasi. Diharapkan, kaum agamawan ini pada akhirnya mampu melakukan transformasi kultural kaum muslimin agar mampu berdialog dengan tantangan zaman. Lebih dari itu, masa depan civil society bergantung pada kemampuan mereka dalam melakukan transformasi itu.
Dengan melakukan transformasi itu, maka Islam dapat berkiprah dalam berbagai wacana dan aksi di ruang publik. Tidak hanya itu, Islam bahkan bisa menjaga dan menciptakan ruang publik yang bebas melalui perubahan paradigma moral dalam civil society. Akhirnya, transformasi kaum muslimin itu akan melahirkan generasi Islam baru yang tidak lagi melihat Islam dari sudut label dan simbol-simbol, tetapi lebih melihat kepada pencapaian cita-cita Islam yang sebenarnya, yakni keadilan dan kemakmuran serta kesamaan diantara semua umat manusia.
Refleksi dan Konstribusi
Dengan berbagai pemikiran tentang perlunya pemberdayaan civil society melalui perubahan paradigma moral yang harus ditempuh dengan jalur sosio-kultural, Gus Dur telah meletakkan landasan teologis dan strategis bagi perkembangan civil society di Indonesia. Tidak hanya itu, Gus Dur juga telah menyelamatkan posisi agama, khususnya Islam, dalam formasi sosial masyarakat modern. Maka, tidak salah jika banyak pengamat—seperti Arskal Salim—yang mengatakan bahwa pemicu utama kebangkitan civil society Indonesia adalah pemikiran-pemikiran dan berbagai aktivisme Gus Dur. Namun demikian, pemikiran civil society Gus Dur bukanlah pemikiran utuh yang tanpa kelemahan. Bahkan, karena kelemahan inilah Gus Dur selalu berada pada posisi kontroversial dalam dialog tak berkesudahan dengan pemikir Islam Indonesia lainnya.
Diantara kelemahan itu adalah Gus Dur tidak pernah menjelaskan makna dan arti civil society secara definitif. Tidak seperti Nurcholish Madjid yang menerjemahkan civil society sebagai masyarakat madani yang memiliki konotasi Islam secara lebih kuat atau seperti Mohammad AS Hikam yang mendefinisikan civil society sebagai wilayah-wilayah kehidupan sosial yang terorganisir dan bercirikan antara lain: kesukarelaan, keswasembadaan, keswadayaan, kemandirian tinggi berhadapan dengan negara, dan terikat peraturan yang sah atau seperangkat aturan bersama.
Tidak adanya penjelasan definitif ini berdampak pada kekaburan akan makna dan idealitas civil society dalam pemikiran Gus Dur. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi arti kontribusinya terhadap perkembangan dan wacana civil society di Indonesia. Sebab, menurut penulis, tidak semua pemikiran harus bertolak dari sebuah definisi tematis yang konkrit dan khusus. Lebih-lebih dalam pemikiran Gus Dur dimana tema civil society hanya berupa sub-sub tema kecil yang terkandung dalam berbagai tema besar dalam pemikirannya.
Salah satu sumbangan penting Gus Dur dalam wacana civil society di Indonesia terletak pada penyelesaiannya terhadap problem-problem teologis umat Islam dalam berhadapan dengan persoalan dan akses modernitas, yang selama ini telah menghambat umat Islam untuk berpartisipasi dan mengambil kiprah dalam kehidupan publik. Diantara faktor penghambat itu, misalnya, persoalan relasi Islam dan Pancasila, relasi Islam dengan agama-agama lain, relasi Islam dengan HAM dan demokrasi, dan relasi Islam dengan Negara. Persoalan-persoalan itu telah melahirkan respon beragam dari para pemikir Islam Indonesia.
Namun, dari berbagai respon itu masih cenderung menimbulkan bias yang pada gilirannya tidak bisa mendorong kemunculan civil society dari golongan Islam. Sebab, berbagai respon itu masih dikungkung oleh pandangan holistik terhadap Islam dan asumsi “keunggulan” Islam dari yang lain. Dampaknya, berbagai respon itu tetap mengarah pada pandangan dan sikap yang eksklusif, sektarian, dan intoleran. Di sinilah letak kejeniusan dan urgensi pemikiran Gus Dur karena dia sudah keluar dari berbagai kungkungan itu. Sehingga, pemikirannya betul-betul telah menghantarkan umat Islam pada pandangan dan sikap yang inklusif, santun pada pluralitas, toleran, dan egalitarian—sesuatu yang menjadi prasyarat utama dalam kemunculan civil society.
Penulis adalah Pegiat diskusi di Indonesian Culture Academy (INCA) Ciputat
Halaman 1 dari 3
- «
- Mulai
- Sebelumnya
- 1
- 2
- 3
- Berikutnya
- Akhir
- »




















