Friday, May 24th

Last update:09:01:42 PM GMT

You are here

Inspirasi

Budidaya Bebek Pertama di Serpong

Bebek bumbu item (kiri) dan sup bebek dari rumah makan Bebek Wong Bejo, Serpong, Tangerang Selatan. SERPONG, KOMPAS.com - Budidaya bebek potong tidak harus dilakukan di pedesaan. Di kota besar pun Anda dapat membudidayakan unggas tersebut dan memperoleh pendapatan yang cukup menjanjikan.

Itulah yang dilakukan oleh Uci Sanusi di kediamannya di Jalan Raya Serpong RT.03/RW.02, Kelurahan Serpong, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan. Saat ini Uci dapat dikatakan pembudidaya bebek potong pertama di kawasan ini.

Ada alasan mengapa Uci bersemangat membudidayakan bebek di Serpong. Pertama, bebek tidak mudah terserang penyakit sehingga pemeliharaannya pun lebih mudah. Kedua, permintaan terhadap bebek di kawasan Serpong juga tinggi. Makin banyak restoran menyediakan menu bebek di kawasan tersebut. Permintaan pasar pun tak melulu terhadap daging bebek, tapi juga terhadap telur bebek.

"Banyaknya bermunculan restoran yang menawarkan sajian utama bebek menjadi alasan utama saya terjun dalam usaha ini," kata Uci.

Selain karena hobi memelihara hewan, Uci juga tergiur oleh penghasilan besar dari budidaya bebek pedaging potong tersebut. Meski usaha ini baru dirintisnya awal Februari lalu, omzet penjualannya bisa mencapai Rp 15 juta per bulan.

Dalam pengalaman Uci, pemeliharaan bebek tidak membutuhkan waktu lama. Selama kurun 2-3 bulan, bebek pedaging sudah siap dipanen. Hal tersebut karena pertumbuhan dan perkembangan tubuh bebek relatif lebih cepat. "Berat bebek 1,2 kg sampai 1,5 kg sudah bisa dipotong karena pemotongan pada umur yang relatif muda menghasilkan daging yang lebih empuk, lebih gurih, dan nilai gizinya lebih tinggi," kata Uci.

Setiap harinya Uci mampu menjual 30-40 ekor bebek pedaging potong atau hidup dengan banderol Rp 36.000 hingga Rp 38.000 untuk bebek potong. Adapun untuk bebek hidup dihargai Rp 32.000 hingga Rp 36.000. Rata-rata pembelinya didominasi oleh restoran atau pemasok pasar swalayan yang tersebar di wilayah Jabodetabek. "Permintaan yang semakin meningkat membuat saya kewalahan juga memenuhi kebutuhan tersebut,” kata Uci.

Bibit bebek pedaging didatangkan Uci dari Indramayu, Jawa Barat. Uci bisa mendapatkan bibit bebek dengan harga Rp 3.500 per ekor. "Bayangkan, dengan modal Rp 3,5 juta, Anda bisa mendapatkan seribu bibit bebek. Harga jual kembali dari seribu bibit bebek yang sudah siap potong bisa mencapai Rp 36 juta," kata Uci. Tak ayal, bisnis yang ditekuni dari hobi ini menjadi salah satu potensi bisnis yang menjanjikan. (S01-11)

Tanam Kangkung Hasilnya Rp 5 Juta Sebulan

SERPONG, KOMPAS.com - Memulai usaha baru tidak selalu harus menjual barang-barang yang wah dengan modal yang besar. Menanam kangkung pun bisa menghasilkan uang yang relatif besar.

Rahasia itu dikisahkan Amal Alghozali, Ketua Persaudaraan Masyarakat Tani (Permata), ketika menyelenggarakan kegiatan Banten Berkebun, di kawasan Jalur Pipa Gas (JPG) Serpong, Banten, Minggu (22/5/2011) sore. Kegiatan ini diikuti sejumlah keluarga, anak-anak, dan orangtuanya.

Memulai usaha pertanian pada skala kecil, ujar Amal, bisa dilakukan dengan menanam kangkung darat pada lahan 600 meter persegi. Tanaman ini bisa dipanen dalam waktu 21 hari. Pemiliknya cukup mengalokasikan waktu sekitar dua jam per hari untuk perawatan.

"Berdasarkan pengalaman saya selama ini, tanaman kangkung itu bisa dipanen secara bergiliran. Dengan begitu, produksinya bisa berkelanjutan dan pendapatan yang bisa diperoleh sekitar Rp 5 juta per bulan," ujar Amal yang juga Direktur Pemasaran PT SMS Indoputra-produsen pupuk bio organik Agrobost dan Golden Harvest.

Dia menjanjikan bisa memberikan rahasia dan analisa usaha pertanian secara gratis kepada masyarakat yang membutuhkan. Tidak hanya tanaman kangkung, usaha pertanian lain yang bisa menguntungkan antara lain tanaman bayam, kedelai, jagung, dan mentimun. Untuk setiap jenis tanaman tersebut terdapat analisa usahanya sendiri-sendiri.

Soal pemasaran, kata Amal, tidak perlu dikhawatirkan karena bisa dijual secara langsung kepada para pedagang karena memang kebutuhannya juga relatif besar. "Dengan menjual kangkung Rp 300 per ikat, penjual sudah mendapatkan keuntungan, sebaliknya pembeli/pedagang pun sudah membeli dengan harga murah. Selama ini harga sayuran mahal harganya karena setidaknya ada delapan rantai distribusi," ujar Amal Alghozali.

Lalu bagaimana mendapatkan lahan untuk memulai usaha pertanian? Relatif gampang karena di sekitar Jabodetabek masih banyak lahan yang nganggur. Seperti yang dilakukan Amal Alghozali, cukup meminjam sewa lahan yang belum dipakai di sekitar JPG Serpong, dia sudah bisa menanam berbagai jenis sayuran di lahan sekitar satu hektar.

Sumber: Kompas

Mari Tengok Dia Si Pelukis Jalanan

Bapak yang satu ini punya cita-cita dalam setiap karya lukisnya; membangun karakter bangsa. Pada sebuah kanvas ia tumpahkan segala kegelisahan hidup. Pendiriannya tegas, selalu ingin berada di jalanan. Di tengah keramaian pasar, tiang pancang flyover yang memantulkan suara bising, karyanya terus mengalir membawa nostalgia manusia yang termanis. Semuanya ia lakukan dengan bersandar pada satu pilihan hidup; bekerja dengan hati.


Siang itu cuaca agak mendung. Di bawah jalan layang Ciputat, sejumlah kendaraan melintas menerbangkan debu, memberi isyarat kepada manusia agar lekas pergi dari sana. Meski begitu, beberapa pedagang sepatu, tukang ojek, dan pernak-pernik lainnya tak bergeming. Mereka justru mangkal tepat di bawah flyover sepanjang pasar Ciputat tersebut demi mendapatkan sejumput rupiah.


Tak terkecuali dengan Pak Bambang (54), bersama “lapak” lukisannya yang memajang berbagai lukisan wajah orang terkenal di Indonesia mau pun dunia. “G Masken, Kolong Seni: Membangun Karakter Bangsa” tertulis di sebuah papan berwarna biru. Di sebelahnya terbentang spanduk, “DEMO  MELUKIS, G Masken, Kolong Seni Ciputat, Tangerang Selatan.” Pada saat yang sama, ia sedang serius melukis wajah seorang calon wali kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany. “Saya memang dari keluarga pelukis,” katanya sambil menjelaskan sang Ayah yang juga seorang pelukis. Pak Bambang telah menekuni tidak saja seni lukis, melainkan beberapa jenis kesenian lain, seperti musik dan dekorasi. Karirnya berawal dari Pasar Seni Jaya Ancol pada tahun 1975.


Memilih di Jalanan


Apa artinya menghabiskan waktu di jalanan bagi Pak Bambang? Berisik dengan suara kendaraan, lalu-lalang orang, dan debu yang membikin penampilan kusam, padahal ia bisa saja menyewa tempat yang lebih nyaman untuk memamerkan lukisannya? Dengan senyuman, ia menjawab,” Saya senang berinteraksi dengan orang-orang di sini. Bisa menumbuhkan saling peduli. Dari situ saya melatih kepekaan untuk berkarya,” ujarnya. Baginya, terlalu rendah untuk para seniman mematok apa yang mereka kerjakan dengan standar perut atau rupiah. Ia lebih menilai berkutat di jalanan-lah kenikmatan hidup itu didapat. “Kerja itu kenikmatan, gimana kita menikmati hidup. Banyak orang yang sudah mapan, punya uang, rumah, dan sebagainya, tapi hatinya tetep ‘ga puas. Karena mereka merasa hidup mereka monoton,” lanjutnya lagi. Karya yang Pak Bambang jual adalah berkisar Rp 400.000 s/d Rp 5.000.000.


Banyak hal yang bisa dipelajari dari caranya bekerja. Ia mengingatkan perlunya setiap orang mementingkan rasa (hati) dalam melakukan pekerjaannya. Ia menolak pengutamaan materi, sebelum seseorang menciptakaan suatu karya yang kreatif, penuh inovasi, dan bermutu. Lebih jauh, ia sangat merisaukan kehidupan zaman sekarang dimana banyak orang sudah memupuskan mimpi-mimpinya demi kesempatan yang sesaat. Kalau mau dibilang, seperti kebanyakan gaya politikus bangsa ini. Mencari-cari kesempatan sampai dapat kekuasaan, kemudian lupa apa yang ia janjikan. “Padahal, kan, (mereka) jadi budak materi,” tegasnya.


Seorang Pak Bambang membangun cita-citanya dari balik air mata sang Bunda. Sempat ia perlihatkan, kedua lukisan orang tuanya tersebut. Pada lukisan sang Ayah tertulis, “Bapakku, ya … Guruku.” Buat sang Ibu ia torehkan, “Air Mata Ibu Cermin Cita-Citaku.” Dua buah lukisan yang penuh pendalaman sejarah, nostalgia.
Di sela obrolan, berhenti sebuah mobil Avanza, pelanggan Pak Bambang. Keduanya lantas membicarakan sesuatu, si pelanggan pun kemudian segera pergi setelah melihat-lihat beberapa lukisan. Dia bercerita, beberapa mahasiswa dari UIN Jakarta dan BSI juga pengamen-pengamen muda sering kali mampir ke tempatnya guna belajar musik atau lukisan. Dengan gayanya ia menceritakan, “Pengamen pun harus jadi pengamen professional. Mereka ke sini, ingin belajar musik, saya sebutin tiga syarat. Pertama, kamu harus berani kelaparan dan kekurangan bensin. Kedua, kamu harus niat jadi professional. Ketiga, kamu harus kuat, karena semua ini tidak mudah!”


Selain melukis dan memamerkannya di kolong jalan layang Ciputat, Pak Bambang pun punya kesibukan lain, mengajar private lukis kepada anak-anak jalanan di Rumah Singgah di kawasan Plumpang, Jakarta Utara. Ia memliki keluarga, seorang istri dan dua orang anak (kuliah dan SMP). Namun demikian, pilihannya tetap sama, yakni di jalanan. Apakah berharap calon wali kota Tangerang Selatan, Airin, membeli lukisannya, kemudian memberikan tempat untuknya? “Ya, silahkan aja. Meski pun ibu Airin memberikan saya tempat untuk melukis, saya terima. Tapi satu; biarkan saya di jalan.”
Langit Ciputat pun semakin mendung diiringi orang-orang yang bergegas mempercepat langkahnya. Pak Bambang kembali duduk di hadapan sebuah kanvas. Melanjutkan pekerjaannya. Melukis kehidupan.

Sumber: http://www.bayulogi.co.cc/

Disiplin, Kunci Keberhasilan SMA Darussalam Meraih Prestasi Nasional

Ciputat— Bulan Oktober lalu, Tim sepakbola SMA Darussalam yang berlokasi di bilangan Ciputat ini sukses menjadi juara piala presiden kategori SMA di ajang kompetisi Liga Pendidikan Indonesia (LPI) 2009–2010.

Bila sebelumnya kejayaan mereka hanya santer di wilayah Jabodetabek lantaran selalu masuk tiga besar turnamen Piala Coca-Cola dan bahkan pernah menjuarai ajang tersebut pada 2008, kini dengan predikat juara Liga Pendidikan Indonesia Tahun Pembinaan 2009/2010 yang notabene kompetisi sepakbola berjenjang mulai dari kabupaten/kota, provinsi, wilayah, dan nasional, SMA Darussalam makin disegani di kancah persepakbolaan antar-SLTA di Indonesia.

Perjalanan SMA Darussalam ke tangga juara Liga Pendidikan Indonesia tingkat nasional di Yogyakarta diawali ketika mereka menjadi juara di tingkat Kota Tangerang Selatan. Sukses Yopi Hestama dkk ini berlanjut saat bertarung di tingkat Provinsi Banten dengan mengalahkan wakil dari Tangerang di final yang berlangsung di Pandeglang. Kemenangan ini mengantar SMA Darussalam sebagai wakil Provinsi Banten di tingkat Wilayah 3 yang berlangsung di Jakarta 24-28 April lalu.

Berada satu wilayah dengan tim kuat dari Provinsi Jawa Barat, tuan rumah DKI Jakarta, dan wakil Kalimantan Barat tak membuat SMA Darussalam ciut. Justru kekuatan tersembunyi yang dimiliki sekolah yang berada di bilangan Ciputat ini membuat mereka sulit terdeteksi tim lawan. Hingga akhirnya tim yang dimanajeri Ubaydillah ini keluar sebagai juara dan maju ke kompetisi 8 Besar Liga Pendidikan Indonesia Tingkat Nasional di Yogyakarta.

Di tingkat Nasional, persaingan yang dihadapi SMA Darussalam kian ketat. Bahkan mereka berada di grup neraka bersama tim favorit juara SMAN 1 Sekayu Musi Banyuasin, Sumsel, SMA YPK Biak Numfor, dan SMAN 2 Peusangan Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam. Namun diam-diam tim asuhan Purwadi ini mampu lolos meski hanya sebagai runner up di bawah SMAN 2 Peusangan.

Menjadi nomor dua di grup memaksa SMA Darussalam harus berhadapan dengan tim tuan rumah, SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta yang menjadi juara grup B. Sekali lagi kematangan mental Yopi Hestama dkk mampu membuat mereka mengatasi tekanan penonton yang memadati stadion UGM. Ambisi SMAN Muhammadiyah 7 untuk berjaya di kandang dipatahkan SMA Darussalam dengan skor telak 1-3.  

Selanjutnya di partai puncak, SMA Darussalam melumat wakil Jawa Timur, SMAN 1 Bangkalan. Kemenangan ini juga harus diraih dengan susah payah. Seri hingga babak perpanjangan waktu, memaksa kedua tim untuk menjalani drama adu pinalti. Dalam momen ini pemain-pemain SMA Darussalam kembali menunjukkan kematangan mental mereka. Tekanan berat akhirnya sukses dilewati dengan mengalahkan SMAN 1 Bangkalan 10-9.  

Lantas apa resep ketangguhan SMAN Darussalam ini?

 ”Disiplin, konsistensi, dan mental juara yang dimiliki anak-anak,” tegas Ubaydillah, sang manajer tim sepakbola SMA Darussalam.

Ya, kedisiplinan menjadi tolok ukur pertama bagi Ubaydillah dan sang pelatih Purwadi (65) dalam memilih pemain. ”Kami tidak butuh pemain yang hanya pintar main bola,” tukas Andi, panggilan akrab Ubaydillah.
 
”Misalnya, disiplin mengikuti jadwal latihan, bisa diartikan pemain tersebut memiliki keinginan untuk maju. Kalau sudah punya keinginan untuk maju, tinggal mengasah mentalnya untuk konsisten bermain dan meraih juara,” timpal Purwadi.

Cerita soal proses perekrutan pemain, Andi yang juga guru agama di sekolah tersebut, menuturkan, setiap tahun ajaran pihaknya melakukan seleksi bagi calon siswa yang memiliki bakat di bidang sepakbola. Sebelum diterima, para calon siswa itu akan digodok selama dua pekan dalam latihan yang dipimpin oleh sang pelatih Purwadi.

”Kalau disiplinnya bagus dan teknisnya mendukung, kita rekomendasikan untuk direkrut sebagai siswa. Begitu masuk mereka ini akan diberikan potongan uang masuk dan diskon uang bulanan sekolah. Jumlah pemain tiap angkatan adalah 40 orang, sehingga setiap tahun kami punya stok pemain sebanyak 120 orang,” kata menantu pemilik SMA Darussalam tersebut.

Para pemain ini akan bersaing masuk tim inti yang membela sekolahnya dalam setiap turnamen. Bahkan sebagai sebagai pemacu semangat, pihak sekolah akan memberikan potongan uang bulanan sekolah yang lebih besar bila pemain tersebut masuk tim inti.

”Intinya, kami ingin memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi pengembangan bibit dan persepakbolaan Tanah Air karena pendidikan bisa berjalan dengan prestasi,” tukas pria asli Betawi ini.

Dalam urusan latihan, pemain-pemain SMA Darussalam ternyata tidak seberat yang dibayangkan banyak orang. Pelatih Purwadi hanya menetapkan jadwal dua kali seminggu, yakni Rabu dan Jumat. Sekali lagi, jadwal ini sudah rutin berlangsung sejak 3 tahun belakangan dan frekuensinya tidak akan ditambah meski tim sedang menghadapi sebuah turnamen.   

”Karena ini sifatnya ekskul, jadwal latihannya dilaksanakan selepas pulang sekolah. Tempatnya pun di lapangan milik orang yang kami sewa setiap Rabu dan Jumat,” jelas Purwadi, mantan pemain nasional era 1967 tersebut.


Inspirasi Wanita Tangsel

KIPRAH Airin Rachmi Diany sebagai Ketua PMI Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan aktivitasnya dalam berbagai kegiatan sosial, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga lingkungan memberi inspirasi bagi kaum wanita di kota itu. Karena itu banyak masyarakat kota pemekaran baru itu yang menganggap dia figur Kartini masa kini yang mewakili wanita Kota Tangsel.

Seperti dituturkan. Hj Yana Umar, 46, yang mengatakan sosok Airin menginspirasi kaum wanita di Kota Tangsel dengan berbagai program yang dilakukan guna memajukan daerah itu. Seperti membentuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM), pengolahan sampah, program Go Green, dan program-program lain yang menunjukkan Airin mempunyai kepedulian yang tinggi mengangkat derajat kaum wanita agar dipandang bermartabat Apalagi, kegiatan itu tidak melupakankodratnya sebagai ibu rumah tangga.

"Semangat kartini yang dimiliki oleh Bu Airin mencerminan figur Kartini masa kini. Dia telah menjadi inspirasi kaum wanita di Kota Tangsel," cetus wanita berjilbab yang bekerja dipener-bitan buku ini. Atas dasar itu juga, Airin dianggap sangat layak untuk didukung menjadi walikota dalam Pemilukada Tangsel. Karena dia dianggap mewakili dan membuktikan bahwa kaum wanita juga mampu mengambil peran da-lam pembangunan di Kota Tangsel.

Kiprah Airin sebagai aktivis sosial dengan berbagai programnya untuk menata Kota Tangsel merupakan salah satu hal yang membuat masyarakat simpatik kepada ibu dua anak tersebut. Program nyata yang telah dilakukan seperti gerakan Tangsel Go Green dengan penanaman pohon dan gerakan non plastik. Di bidang ekonomi, juga melakukan revitalisasi koperasi yang ada di Kota Tangsel, posyandu serta majelis taklim. Termasuk juga program gerakan menyumbang buku yang disalurkan kepada Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang telah didirikannya di 7 kecamatan se-Kota Tangsel.

Hal senada diungkapkan, Ketua Dharma Bhakti Indonesia Cabang Kota Tangsel, Nenden Setiawan mengatakan kalau berbagi kegiatan yang dilakukan Airin itu salah satu bentuk perjuangannya guna memajukan Kota Tangsel. "Bu Airin sebagai perempuan yang berjiwa sosial tinggi sudah sejak dulu kerap berbaur dengan seluruh lapisan masyarakat," terangnya

Jadi jangan heran, masyarakat sangat simpatik dengan tindakannya. "Jadi sangat wajar kalau masyarakat menilai Airin figur Kartini masa kini dan layak memimpin Kota Tangsel," tuturnya. Selain mempunyai jiwa sosial yang tinggi, Airin juga adalah sosok perempuan muda yang berprestasi, sudah banyak penghargaan yang telah diperolehnya. "Airin sebagai tokoh wanita di Kota Tangsel yang berprestasi patut kita jadikan panutan," tambah Nenden lagi.Tidak hanya dari kalangan perempuan, pernyataan senada juga terlontar dari Ketua Forum Warga Cendana Residence, Serua, Ciputat, Kota Tangsel, Suhardi yang mengatakan Airin sebagai wanita mempunyai program yangnyata untuk Kota Tangsel. Karena itu juga, sebagai masyarakat pihaknya merasa simpatik dan mendukung program Airin untuk kemajuan Kota Tangsel.

Program Airin untuk Kota Tangsel bukan hanya slogan semata, akan tetapi berbentuk nyata Hal ini dapat dilihat saat Bu Airin mensosialisasikan programnya beliau langsung turun tangan, bahkan ke lapisan bawah sekalipun," ungkapnya. Sunardi menambahkan, dia merasa tertarik dengan program-program yang di cetuskan Airin, karena yang diangkat adalah tema sosial yang bersifat ajakan agar masyarakat mempunyai kepedulian terhadap Kota Tangsel."Airin mempunyai jiwa sosial yang tinggi, dan programnya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kami sangat mendukung program-program Bu Airin untuk mengajak masyarakat mempunyai kepedulian terhadap kemajuan Kota Tangsel," cetusnya juga, (ard)

*Diambil dari Indopos, 19 September 2010

Halaman 1 dari 6

Baner