Saturday, May 25th

Last update:09:01:42 PM GMT

You are here

Muatan Historis dalam Mushaf Al Bantani

Masyarakat Provinsi Banten patut berbangga hati. Pasalnya, Provinsi dengan masyarakat yang relijius itu kini telah memiliki mushaf Al-Quran sendiri, yaitu Mushaf Al-Bantani.

Mushaf yang digagas MUI Provinsi Banten ini dilengkapi dengan 30 iluminasi atau hiasan ditepi halaman Alquran yang mengadopsi benda-benda dan peninggalan sejarah Kesultanan Maulana Hasanuddin dan menjadi khas Provinsi Banten. Jadi, mushaf ini adalah mushaf pertama yang disusun berdasarkan benda cagar budaya daerah

Ketua MUI Provinsi Banten, Tubagus Najib mengatakan, penulisan Mushaf Al Bantani juga pernah dilakukan sekitar 230 tahun yang lalu atau pada  abad ke 18, yang dimiliki Sultan Aliyudin. Mushaf ini ditemukan di Krui Lampung Barat.

Dikatakan Najib, ada beberapa perbedaan Quran tersebut dengan lainnya yakni pada penjelasan teks yang disimpan di akhir (kolopon), pada figura, serta kaligrafi atau bentuk huruf wau.

Adapun iluminasi atau hiasan yang ada pada Quran tersebut merupakan artefak berupa ornamen mimbar masjid-masjid tua di Banten, mahkota kesultanan Banten, hiasan gerabah Banten, gapura makam, gapura Surosowan serta berbagai artefak lainnya.

Mushaf Al Bantani ini dicetak perdana di LPQ Ciawi, Bogor, Jabar, Selasa (31/8), sedangkan peresmian peluncurannya dilakukan bersamaan dengan hari jadi Provinsi Banten yang ke 10, sekaligus persmian Masjid Al-Bantany pada 4 Oktober lalu. (Mus)

Masjid Agung Banten, Simbol Peradaban Islam di Banten

Masjid Agung Banten terletak di Kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 KM sebelah utara Kota Serang. Masjid Agung Banten didirikan pada 1566 M oleh Sultan pertama Kasultanan Demak Maulana Hasanuddin ketika menjabat sebagai Sultan Banten pada 1552-1570. Ia adalah putra pertama Sunan Gunung Jati.

Masjid Agung Banten hingga saat ini masih berdiri kokoh, oleh karena itu tak heran Masjid Agung Banten memiliki nilai historis yang cukup tinggi, khususnya dalam proses penyebaran Islam di Tanah Banten.

Masjid Agung Banten berdenah segi empat dengan rancang bangun yang unik. Arsitektur Masjid Agung Banten merupakan perpaduan antara arsitektur Jawa, Cina, dan Eropa. Hal ini dikarenakan pembangunannya melibatkan tiga arsitek dari negeri yang berbeda. Raden Sepat merupakan arsitek utama berasal dari Majapahit yang juga menukangi Masjid Cirebon; Tjek Ban Tjut arsitek asal Cina; dan Hendrik Lucaz Cardeel asal Belanda. Atas jasa-jasa merekalah Masjid Agung Banten berdiri tegak menjadi simbol pusat penyebaran kebesaran Islam itu. Fakta ini menjadikan Masjid Banten sebagai simbol peradaban Islam di Banten..

Salah satu kekhasan yang tampak dari masjid ini adalah atap bangunan utama yang bertumpuk lima, mirip pagoda China. Ini adalah karya arsitektur China yang bernama Tjek Ban Tjut. Dua buah serambi yang dibangun kemudian menjadi pelengkap di sisi utara dan selatan bangunan utama.

Di masjid ini juga terdapat komplek makam sultan-sultan Banten serta keluarganya. Yaitu makam Sultan Maulana Hasanuddin dan istrinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nasir Abdul Qohhar. Sementara di sisi utara serambi selatan terdapat makam Sultan Maulana Muhammad dan Sultan Zainul Abidin, dan lainnya.

Masjid Agung Banten juga memiliki paviliun tambahan yang terletak di sisi selatan bangunan inti Masjid Agung. Paviliun dua lantai ini dinamakan Tiyamah. Berbentuk persegi panjang dengan gaya arsitektur Belanda kuno. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendick Lucasz Cardeel. Biasanya, acara-acara seperti rapat, dan kajian Islami dilakukan di sini.

Menara yang menjadi ciri khas sebuah masjid juga dimiliki Masjid Agung Banten. Terletak di sebelah timur masjid, menara ini terbuat dari batu bata dengan ketinggian kurang lebih 24 meter, diameter bagian bawahnya kurang lebih 10 meter. Untuk mencapai ujung menara, ada 83 buah anak tangga yang harus ditapaki dan melewati lorong yang hanya dapat dilewati oleh satu orang. Dari atas menara ini, pengunjung dapat melihat pemandangan di sekitar masjid dan perairan lepas pantai, karena jarak antara menara dengan laut hanya sekitar 1,5 km.

Dahulu, selain digunakan sebagai tempat mengumandangkan azan, menara yang juga dibuat oleh Hendick Lucasz Cardeel ini digunakan sebagai tempat menyimpan senjata.

Kemegahan Masjid Banten kini masih tetap bisa kita nikmati dan menjadi sebuah saksi bahwa Masjid ini masih tetap bertahan sebagai pusat penyebaran Islam di Banten.

Setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi para peziarah yang datang tak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Pulau Jawa. (Mus)

"Jangan Hilangkan Sejarah Asli Titik Pertempuran Pahlawan Seribu"

Jum'at, 17 Agustus 2007
Kawasan Serpong makin berkembang pesat seiring dengan lonjakan pertumbuhan bisnis di daerah ini. Daerah yang semula kebon karet kini menjadi daerah elit. Puluhan tempat hiburan, mal, pusat keramaian bermunculan di Serpong. Bangunan sejarah yang merupakan nafas masa lalu kian terhembus oleh derap laju pembangunan yang kini makin marak.

Mereka para pelaku sejarah yang dulunya merupakan bagian dari sejarah seyogyanya dikenang oleh para generasi yang akan datang. Masyarakat Serpong khususnya, bisa berbangga karena daerah ini pernah menjadi salah satu bagian sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Situs-situs sejarah yang kini tersisa tinggallah Makam Pahlawan Seribu, Monumen Lengkong, dan beberapa bangunan peninggalan Belanda. Hasil penelusuran yang dilakukan oleh reporter SerpongKita.com melalui nara sumber dan pelaku sejarah di kawasan ini berhasil menemui salah seorang pelaku sejarah yang masih hidup yaitu Pak Mahadi bin Bantoet (90), bapak dari 15 orang anak.

Pelaku Sejarah

Perang ada dan akhirnya dicatat sebagai sebuah peristiwa bersejarah oleh masyarakat. Dengan mata yang tidak berfungsi dengan normal dan jalan yang tertatih-tatih Pak Mahadi masih terkenang dengan kuat masa-masa ketika pertempuran seribu terjadi. Pak Mahadi, kelahiran 20 Februari 1917 yang sehari-hari akrab dipanggil Pak Oyot, mulai menuturkan kisahnya saat ia berusia sekitar 30 th. Saat itu, ia menjadi "komicho" yang dulunya merupakan sistem aparat desa bentukan Jepang atau setingkat RT saat ini.


Para laskar rakyat yang datang menyerbu merupakan para laskar yang berasal dari Banten ketika itu. Mereka yang datang dari dari daerah Maja mencapai ribuan orang yang dipimpin oleh seorang Kyai. Ketika itu rakyat yang berjumlah ribuan berhadapan secara langsung dengan para tentara Belanda.

Menurut Pak Oyot, saat itu pihak Belanda mengajak berdamai dengan rakyat yang menyerbu markas karena rakyat yang bersenjata golok dan bambu dipandang sebelah mata oleh pasukan belanda yang bersenjata canggih kala itu. Namun, saat sedang berlangsung pembicaraan ada tentara Belanda yang dibacok. Hingga akhirnya, pertempuran pun meletus. Dengan bermodal keberanian dan senjata genggam rakyat mulai menyerang. Sambil meneriakkan “Allahu Akbar” mereka menghunus golok dan bambu runcing.

Pertempuran yang terjadi pada tanggal 26 Mei 1946 berlangsung selama 12 jam. Korban yang jatuh ketika itu, menurut penuturan Pak Oyot yang juga merupakan salah seorang yang ikut memakamkan mereka ke dalam tiga lobang berjumlah 147. Ia mengatakan dua lubang makam masing-masing diisi 50 jenazah dan yang satunya berjumlah 47 orang. Namun, di tempat berbeda ditemukan 3 jenazah lagi yang kemudian dimakamkan secara terpisah. Bersama dengan rekannya seorang amil desa Cilenggang yang sudah wafat, ia memandikan dan mengubur jenazah-jenazah tersebut ke liang lahat.

Mungkin kini hanya tinggal Pak Oyot yang menjadi saksi hidup peristiwa tersebut. Ketika itu Pak Oyot secara langsung menyaksikan dan memakamkan para jenazah pertempuran tersebut. Selain itu kisah pertempuran dengan tentara Belanda tersebut, ia juga menuturkan pertempuran yang terjadi dengan Jepang di daerah Lengkong. Menurut Pak Oyot, di daerah Lengkong merupakan gudang senjata tentara Jepang. Namun, para taruna yang ketika itu dipimpin oleh Mayor Daan Mogot, mencoba merebut gudang senjata tersebut. Hingga akhirnya meletuslah peristiwa Lengkong. Pada awalnya pasukan Jepang ketika itu tidak mau menyerahkan gudang senjata tersebut. Namun semangat pemuda yang sangat berani akhirnya menguasai gudang senjata tersebut hingga meletuslah peristiwa Lengkong.

Sebelumnya ketika masa pemerintahan Jepang, Pak Oyot mengaku sempat menjadi pekerja paksa di Lengkong sebagai tukang besi di gudang senjata.

Berikut ini adalah kutipan wawancara yang dilakukan oleh reporter SerpongKita.com dengan Pak Mahadi bin Bantoet alias Pak Oyot:

Kapan Anda mengalami masa perjuangan Serpong?

Ketika terjadi peristiwa pertempuran tersebut sekitar bulan mei 1946, saya berusia sekitar 30 thn. Masa pemerintahan ketika itu masih kawedanan dan saat itu merupakan masa transisi kekuasaan Nasional yang diproklamirkan oleh Bung Karno ketika itu.

Saya menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri ribuan orang mendatangi Vedbak (Pos-pos MP) yang ada di PTPN dulu.

Apa yang Anda ketahui tentang peristiwa Pertempuran Seribu yang terjadi ?

Saya menyaksikan dari rumah, ribuan orang berduyun-duyun dengan berjalan kaki menghampiri Vedbak-Vedbak yang ada di kawasan PTPN hingga Stasiun. Dan ada seorang Kyai yang bersorban memimpin pasukan tersebut. Awalnya tidak terjadi keributan karena sebelumnya ada perundingan. Meski, mereka saling berhadapan namun tidak langsung terjadi bentrok. Pihak Belanda meminta para laskar tersebut untuk bubar. Mereka tidak melihat rakyat sebagai seatu ancaman yang berbahaya . Para rakyat yang bersenjata golok, tetap berada di posisinya untuk menyerang. Sementara pasukan Belanda sudah bersiap untuk menembak mereka dari balik pohon bambu yang berada di dataran yang lebih tinggi.


Bagaimana kondisi masyarakat Serpong, ketika itu?

Ketika itu memang masyarakat di daerah Serpong sudah merasa tertekan. Namun sebagian besar dari laskar rakyat yang turun ketika itu merupakan Laskar yang datang dari Banten. Ada beberapa penduduk Desa Kranggan dan Desa Setu yang juga ikut bertempur ketika itu. Dengan modal keberanian dan senjata yang ada, berbagai golongan kelompok dan suku yang ada ketika itu, bersatu menyerang Pos tentara Belanda yang ada di sini.


Siapa saja yang terlibat ketika masa perjuangan Serpong tersebut?

Untuk peristiwa Pahlawan Seribu, titik pertempuran terjadi tepat di kawasan pertigaan Cisauk. TKR belum ada jadi perlawanan yang dilakukan bersifat semangat kedaerahan dan lokal. Pada umumnya laskar atau kelompok perlawanan rakyat yang datang menyerbu Belanda di daerah ini datang dari Banten yang berasal dari daerah Madja, Tejo dan sekitar Rangkas Bitung . Tetapi untuk peristiwa Lengkong yang merupakan perebutan gudang senjata tentara Jepang oleh para taruna Akedemi Militer Tangerang yang dipimpin oleh Mayor Daan Mogot.

Setelah terjadi peristiwa pertempuran Pahlawan Seribu, apa yang Anda terjadi ?

Malamnya, setelah pertempuran yang berlangsung selama satu hari dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam itu, Serpong benar-benar sepi dan sunyi. Warga banyak yang pergi karena ketakutan. Namun, saya dan almarhum Jaro Arsyad mulai mengumpulkan dan mengubur jenazah. Jenazah berjumlah 147. Dan dimakamkan ke dalam tiga liang lahat. Kemudian 3 jenazah dimakamkan terpisah oleh warga.

Setelah keadaan kembali normal, para warga membuat sebuah tugu peringatan yang dibangun secara swadaya. Namun, saya prihatin. Tugu tersebut saat ini kian tertutup diantara para pedagang yang berjajar di pertigaan Cisauk.

Menurut yang Anda ketahui, adakah hal-hal yang dilakukan pemerintah dan masyarakat Serpong untuk mengenang jasa para pahlawan perjuangan tersebut?

Setiap tujuh belasan selalu ada malam renungan. Namun monumen dan tugu yang menjadi bangunan saksi sejarah kurang dipelihara malah dipindahkan. Sebagai, contoh tempat titik pertempuran yang terjadi di pertigaan Cisauk yang sudah ada monumen dan makamnya malah dipindah ke kawasan Taman Tekno BSD. Memang jika hendak menyusuri sejarah perjuangan daerah Serpong tidak mudah karena tidak ada perhatian khusus dari Pemda. Peninggalan sejarah perjuangan nyaris tak berbekas atau malah dipindahkan, kecuali taman makam pahlawan yang hanya dikunjungi setahun sekali tiap Agustus. Sisa-sisa bangunan peninggalan pada zaman kolonial Belanda memang belum dibenahi secara optimal oleh pemerintah.

Bagaimana pandangan Anda sebagai pelaku sejarah terhadap pembangunan yang kian pesat di kawasan Serpong saat ini?

Diperlukan keinginan yang kuat seluruh lapisan masyarakat yang ada, khususnya pemerintah untuk bisa lebih menghargai jasa para pejuang yang sudah rela berkorban demi generasi penerusnya. Keikhlasan mereka dalam berjuang tidak mengharapkan balasan. Keringat dan cucuran darah yang menetes bahkan nyawa demi sebuah perjuangan di Serpong. Apakah wajarkah kita sebagai warga yang mendiami kawasan Serpong ini hanya menumpang dan bersenang tanpa mau tahu perjuangan dan sejarah mereka.

Pembangunan juga perlu, tapi setidaknya menghargai jasa para pahlawan yang amat berjasa ini. Dengan relokasi makam bukannya menjaga dan merawat malah menjauhkan generasi kita dari sejarah.

Menurut Anda apakah yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat Serpong terhadap sejarah perjuangan rakyat?

Sebaiknya, seluruh lapisan masyarakat bisa berperan lebih aktif lagi dalam mengenang dan menghargai jasa para pahlawan. Khususnya yang ada di Serpong tidak hanya sekedar meletakkan karangan bunga atau mengulurkan bantuan ketika memperingati Hari proklamasi atau Hari Pahlawan. Sebaliknya segenap lapisan rakyat perlu memainkan peranan dan kewajiban memastikan kebajikan mereka pejuang mendapat hak yang sewajarnya. Kembangkan pengetahuan sejarah generasi muda terhadap para pahlawan mereka. Jangan hanya melakukan seremoni saja.


Adakah secercah harapan atau keinginan dari Anda yang ingin disampaikan pada masyarakat yang awam terhadap perjuangan rakyat Serpong saat ini?

Saya mengharapkan pembenahan tersendiri, khususnya untuk sisa-sisa bangunan sejarah perjuangan Serpong dan peninggalan zaman kolonial Belanda. Bangunan sejarah jangan dipindah-pindah. Bangunan sebenarnya tidak dirawat. Untuk kawasan pertigaan Cisauk harus ditata ulang kembali dengan tidak menghilangkan sejarah aslinya sebagai titik pertempuran Pahlawan Seribu.

Sumber: www.serpongkita.com

SEKILAS TENTANG SPEELWIJK

Dalam catatan sejarah, benteng ini mulanya bekas benteng milik Kesultanan Banten yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar (1672 – 1687). Pada 1685, Kesultanan Banten diserbu penjajah Belanda dan menguasa Banten. Benteng itu kemudian direnovasi di atas reruntuhan sisi sebelah utara tembok keliling kota Banten.

Benteng Speelwijk terltetak di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Sebelah timur  komplek Mesjid Agung Banten. Di sekeliling benteng ini terdapat sejumlah makam orang-orang Eropa, terutama bangsawan dan prajurit penjajah yang tewas melawan laskar Kesultanan Banten. Sebagian makam ini tampak sudah rusak. Makam-makam dengan arsitektur Eropa, mempertegas benteng ini sebagai sisa kejayaan penjajah Belanda di ranah Banten.

Benteng ini dirancang arsitektur yang sudah masuk Islam dan menjadi anggota kesultanan yang bernama Hendrick Lucaszoon Cardeel. Nama Speelwijk yang melekat pada benteng itu untuk menghormati Gubernur Jenderal Speelma.

Berfungsi untuk mengontrol segala kegiatan yang berkaitan dengan kesultanan banten dan juga sebagai tempat berlindung/bermukim bagi orang Belanda. Dengan adanya benteng ini semakin mengokohkan posisi Belanda dalam usahanya memonopoli perdagangan merica yang berasal dari Lampung Selatan untuk kemudian dijual lagi kepada pedagang-pedagang asing yang berasal dari Cina, Malaysia, Arab, India dan Vietnam (bah/dari berbagai sumber)

 

Banten dan Sejarah Kejayaan

Mengingat nama Banten pada masa lalu, terbayang kejayaan bandar antarpulau dan negara. Nama yang tersangkut di dalamnya adalah Sultan Ageng Tirtayasa, pahlawan nasional asal Kerajaan Banten yang terkenal gigih melawan pemerintahan kolonial Belanda.

Halaman 1 dari 2

Baner