Thursday, Jun 20th

Last update:09:01:42 PM GMT

You are here

Pernik

Menikmati Soto Betawi

soto betawi, foto diambil dari http://sotobetawi.wordpress.comMendengar kata ‘Soto Betawi’ pikiran saya melayang ke semangkok makanan lezat bersantan, lengkap dengan potongan daging, tomat, daun prei, bawang goreng, dan serpihan emping yang berenang – renang di dalamnya. Saya termasuk penggemar makanan satu ini. Terutama saat – saat mendung berhujan dimana kita sering mencari makanan yang hangat – hangat.

Salah satu versi soto betawi yang pernah saya coba ada di bilangan Pondok Pinang. Saat beraktivitas di daerah Ciputat Tangsel, saya pernah menyempatkan diri berbelok sebentar dan mampir kesana. Warungnya tidak besar. Tapi suasananya hangat. Warung tersebut sebenarnya adalah bagian depan dari rumah satu keluarga yang sepertinya sudah turun temurun berjualan soto.

Di tempat ini, soto betawi hadir dengan kapasitas maksimal. Porsinya besar, demikian juga dengan potongan dagingnya. Kuahnya agak merah dan diramaikan dengan limpahan potongan tomat yang sangat banyak. Sepertinya setiap  porsi soto dihujani dengan dengan satu buah tomat merah besar  yang dipotong – potong sebagai penyegar.  

Setiap kali makan disana, saya tidak dapat menghabiskan bagian saya sendirian. Makan soto betawi  Pondok Pinang memang enaknya dilakukan bersama dengan beberapa kawan. Menciduk soto dari mangkoknya adalah bagian yang paling mengasyikkan. Karena kita tidak pernah kecewa dengan potongan daging, tomat, ataupun emping yang ada didalamnya. Benar – benar memuaskan selera.

Soto Betawi ternyata punya beberapa versi. Selain versi kuah merah cokelat seperti Pondok Pinang, ada juga soto betawi versi putih susu. Ya, yang satu ini memang benar – benar menggunakan susu. Misalnya Soto Betawi H. Ma’ruf yang mangkal sejak puluhan tahun lalu di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini. Soto yang satu ini agak klasik. Karena rasanya memang benar – benar pekat dengan santan yang dicampur susu murni.

Makan soto betawi H. Ma’ruf kurang lengkap rasanya tanpa sate sapi. Sate ini khas sekali. Selain karena diolah dari daging sapi, teksturnya lembut, dan berbumbu pedas. Lazimnya, soto betawi sebenarnya sudah cukup memuaskan untuk dimakan solo alias berdiri sendiri. Tapi godaan sate sapi di tempat ini begitu besar sehingga kami, saya dan keluarga, seringkali makan soto sekaligus satenya secara bersamaan.

Menulis tentang soto betawi, pikiran saya melayang ke soto betawi lainnya seperti di Manggarai, Depok, dan tempat lainnya. Membuat saya penasaran, ada berapa banyak versi dari Soto Betawi di seantero Jakarta ini?


Airin Rachmi Diany

Muatan Historis dalam Mushaf Al Bantani

Masyarakat Provinsi Banten patut berbangga hati. Pasalnya, Provinsi dengan masyarakat yang relijius itu kini telah memiliki mushaf Al-Quran sendiri, yaitu Mushaf Al-Bantani.

Mushaf yang digagas MUI Provinsi Banten ini dilengkapi dengan 30 iluminasi atau hiasan ditepi halaman Alquran yang mengadopsi benda-benda dan peninggalan sejarah Kesultanan Maulana Hasanuddin dan menjadi khas Provinsi Banten. Jadi, mushaf ini adalah mushaf pertama yang disusun berdasarkan benda cagar budaya daerah

Ketua MUI Provinsi Banten, Tubagus Najib mengatakan, penulisan Mushaf Al Bantani juga pernah dilakukan sekitar 230 tahun yang lalu atau pada  abad ke 18, yang dimiliki Sultan Aliyudin. Mushaf ini ditemukan di Krui Lampung Barat.

Dikatakan Najib, ada beberapa perbedaan Quran tersebut dengan lainnya yakni pada penjelasan teks yang disimpan di akhir (kolopon), pada figura, serta kaligrafi atau bentuk huruf wau.

Adapun iluminasi atau hiasan yang ada pada Quran tersebut merupakan artefak berupa ornamen mimbar masjid-masjid tua di Banten, mahkota kesultanan Banten, hiasan gerabah Banten, gapura makam, gapura Surosowan serta berbagai artefak lainnya.

Mushaf Al Bantani ini dicetak perdana di LPQ Ciawi, Bogor, Jabar, Selasa (31/8), sedangkan peresmian peluncurannya dilakukan bersamaan dengan hari jadi Provinsi Banten yang ke 10, sekaligus persmian Masjid Al-Bantany pada 4 Oktober lalu. (Mus)

Ocean Park BSD; Membuat Liburan Penuh Keceriaan

Ocean Park BSD bisa menjadi salah satu tujuan wisata keluarga Anda selama masa liburan atau akhir pekan. Fasilitas permainan air yang cukup lengkap serta sarana penunjang yang tersedia akan membuat hari libur Anda penuh warna dan keceriaan. Taman air ini memiliki kapasitas maksimum hingga 12.000 orang sehingga cukup luas untuk menampung banyak wisatawan. Tidak hanya itu, Anda juga dapat menikmati berbagai hidangan warna-warni makanan di area yang telah disediakan.

OceanPark Water Adventure BSD City merupakan  wahana air tematik terbesar di Asia Tenggara yang berdiri di atas lahan seluas 8,5 hektar. Dilengkapi cafe, restoran, dan food court. Wahana rekreasi keluarga ini terdiri dari kolam untuk anak-anak mulai dari usia 2-12 tahun dan kolam untuk dewasa (arena seluncur, kolam ombak, dan kolam arus sepanjang 500 meter).

Ocean park BSD menyediakan berbagai jenis wahana air untuk anak dan dewasa, sebut saja fish castle, giant mushroom, google rope, jelly jet, dream boat, slide shell, rocky palace, splash town, lazy river (kolam arus) sepanjang 500 meter, kolam ombak, dan dua jenis papan luncur (race slider dan spiral slide).

Harga tiket yang ditawarkan OceanPark Water Adventure relatif terjangkau. Untuk Senin-Jumat, harga tiket ditawarkan Rp 50.000. Sedangkan Sabtu dan Minggu, tiket dijual seharga Rp 75.000. Setiap Senin hingga Jumat, wahana petualangan air tersebut buka mulai pukul 11.00-19.00 WIB dan Sabtu-Minggu buka mulai  pukul 07.00-19.00 WIB.

Wahana rekreasi ini berlokasi di kawasan BSD City, yaitu di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Anda dapat menuju tempat ini melewati jalan tol, baik jalan tol Bintaro menuju BSD, bila Anda ingin melewati daerah Jakarta Selatan. Atau Anda bisa melewati jalan tol Tomang menuju Tangerang, dan keluar di pintu tol BSD, jika Anda melewati daerah Jakarta Barat.

Kolam Ombak

Suasana yang ingin ditampilkan di wahana ini seluas 8,5 hektar adalah suasana pantai. Misalnya pada bagian Pacific Wave terdapat kapal bajak laut. Di area ini sering dikenal sebagai kolam ombak, karena setiap satu jam, akan datang ombak selama 15 menit. Ombak buatan ini bisa mencapai 1,5 meter yang akan membuat Anda merasa berada di pantai atau di laut lepas. Karena hanya muncul tiap jam, maka saat mendengar sirene yang menandakan bahwa akan datang ombak, banyak pengunjung bergegas menuju area ini. Tentunya wahana ini cukup aman apalagi Anda dilengkapi dengan pelampung.

Kolam Arus

Bila Anda telah merasa lelah, cobalah untuk mengunjungi wahana Caribbean River, yaitu kolam arus yang mengelilingi tempat ini. Di sini, Anda tidak perlu berenang. Cukup duduk diatas pelampung Anda atau dengan menggunakannya, Anda dapat melihat keseluruhan area Ocean Park. Arena yang tepat untuk orang yang sudah merasa lelah.

Meluncur dan Basah

Seperti kebanyakan taman air lainnya, di Ocean Park juga dilengkapi spiral untuk meluncur atau seluncuran. Wahana itu dinamakan Slide n Fun. Spiral ini memiliki ketinggian 15 meter dengan panjang mencapai 96 meter. Tentu menarik untuk mencoba wahana ini.

Selain itu, ada juga wahana untuk meluncur lainnya yang dinamakan Racer Slide. Bentuk wahana untuk meluncur ini lurus dan cukup curam, sehingga Anda dapat meluncur dengan kecepatan tinggi. Terdiri atas 4 lajur sehingga cukup menarik untuk adu balap meluncur ke bawah lalu masuk ke kolam.

Pijat Air Terjun

Anda juga dapat membuat diri Anda rileks dengan merasakan kerasnya pijatan air terjun buatan di wahana Lagoon The Bahama. Pijatan ini akan membuat Anda kembali bugar setelah lelah menikmati banyak wahana di area Ocean Park BSD.

Permainan Air

Anda juga dapat menikmati senangnya bermain air bersama keluarga. Di wahana Splash Town, Anda dapat bercanda ria bersama keluarga sambil bermain air dan berbasah-basahan. Tentu tempat ini menarik untuk dinikmati bersama seluruh keluarga termasuk anak-anak Anda yang masih kecil.

Jam Buka:
Senin-Jumat: 11.00-19.00
Sabtu-Minggu: 07.00-19.00

BSD City
Jl. Pahlawan Seribu
CBD Area BSD City Tangerang Selatan
Telp: (021) 537 0009

Sejarah Bahasa Sunda dan Perkembangannya

Bahasa menunjukkan bangsa, kata ini dipahami betul oleh para sarjana sunda. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, dikalangan Sarjana Sunda yang dianggap cukup berpengaruh bukan hanya bahasa dan etnisitas, tapi juga budaya. Dengan demikian, bahasa adalah representasi, cerminan suatu kebudayaan; dan menentukan serta mendukung etnisitas. Bahasa dianggap sebagai pengusung terpenting dari suatu Budaya.
Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa yang mandiri mulai pada tahun 1841, ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda yang pertama (Kamus bahasa Belanda-Melayu dan Sunda). Kamus tersebut diterbitkan di Amsterdam, disusun oleh Roorda, seorang Sarjana bahasa Timur.
Tidak diketahui pasti kapan bahasa sunda lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasasti berasal dari abad ke-14.

Prasasti dimaksud di temukan di Kawali Ciamis, dan ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan prasasti ini ada beberapa buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475).

Salah satu teks prasasti tersebut berbunyi “Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana” (inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Eyang Prabu Adipati Wastukentjana yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia).

Dapat dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Mungkin sekali Bahasa Kw’un Lun yang disebut oleh Berita Cina dan digunakan sebagai bahasa percakapan di wilayah Nusantara sebelum abad ke-10 pada masyarakat Jawa Barat kiranya adalah Bahasa Sunda (kuno), walaupun tidak diketahui wujudnya.

Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) secara tertulis, banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun (lontar, enau, kelapa, nipah) yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 180. Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti. Sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas.

Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut:

  • Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” (Hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa!)
  • Berbentuk puisi pada Kropak 408 berjudul Séwaka Darma (abad ke-16) “Ini kawih panyaraman, pikawiheun ubar keueung, ngaranna pangwereg darma, ngawangun rasa sorangan, awakaneun sang sisya, nu huning Séwaka Darma” (Inilah Kidung nasihat, untuk dikawihkan sebagai obat rasa takut, namanya penggerak darma, untuk membangun rasa pribadi, untuk diamalkan sang siswa, yang paham Sewaka Darma).


Tampak sekali bahwa Bahasa Sunda pada masa itu banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini merupakan bukti tertua masuknya kosakata Bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda.

Di dalam naskah itu terdapat 4 kata yang berasal dari Bahasa Arab yaitu duniya, niyat, selam (Islam), dan tinja (istinja). Seiring dengan masuknya Agama Islam kedalam hati dan segala aspek kehidupan masyarakat Sunda, kosa kata Bahasa Arab kian banyak masuk kedalam perbendaharaan kata Bahasa Sunda dan selanjutnya tidak dirasakan lagi sebagai kosakata pinjaman.

Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. Pengaruh Bahasa Jawa sebagai bahasa tetangga dengan sesungguhnya sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Paling tidak pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di Tatar Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.

Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan berbahasa masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh Mataram memasuki wilayah ini. Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit terdesak oleh Bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam Bahasa Sunda mengikuti pola Bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa.

Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi social secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastera WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.

Sejak pertengahan abad ke 19 Bahasa Sunda mulai digunakan lagi sebagai bahasa tulisan di berbagai tingkat sosial orang Sunda, termasuk penulisan karya sastera. Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah.

Pada awalnya kata BUPATI misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan Bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan (1860) dan Aksara Latin (1912) yang dibuat oleh orang Belanda. Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.

Dengan diajarkannya di sekolah-sekolah dan menjadi bahasa komunikasi antar etnis dalam pergaulan masyarakat, Bahasa Melayu juga merasuk dan mempengaruhi Bahasa Sunda. Apalagi setelah dinyatakan sebagai bahasa persatuan dengan nama Bahasa Indonesia pada Tahun 1928. Sejak tahun 1920-an sudah ada keluhan dari para ahli dan pemerhati Bahasa Sunda, bahwa telah terjadi Bahasa Sunda Kamalayon, yaitu Bahasa Sunda bercampur Bahasa Melayu.

Sejak tahun 1950-an keluhan demikian semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur (direumbeuy) dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun. Banyak orang Sunda yang tinggal di kota-kota telah meninggalkan pemakaian Bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari di rumah mereka. Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakatnya dalam hal ini Sunda dan Jawa Barat. Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di Tatar Sunda kemudian berbicara dengan Bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya. Karena itu, kiranya keberadaan Bahasa Sunda optimis bakal terus berlanjut.

 

 

* diambil dari berbagai sumber, terutama ensiklopedi sunda

Kampung Dongeng Kak Awam; Mencerdaskan Anak dengan Dongeng

“Mendidik anak dengan mendongeng itu mengasyikkan. Selain dapat menanamkan nilai-nilai kebaikan, banyak sekali manfaat yang akan didapatkan oleh anak ketika mendengarkan dongeng”

Ciputat— Aktivitas mendongeng dalam kehidupan anak-anak sepertinya kian sulit kita temukan dewasa ini. Apalagi dongeng yang dikemas dalam sebuah sanggar atau pentas. Tapi untung saja masih ada yang peduli terhadap aktivitas hiburan edukatif ini. Adalah Awam Prakoso, Lelaki yang akrab disapa Kak Awam ini berusaha menghidupkan terus seni dongeng dengan mencetuskan sanggar bernama Kampung Dongeng [KaDo].

Aktivitas KaDo mulai berlangsung Februari 2009. Tapi Kak Awam mulai meresmikannya pada 18 Mei 2009 bertepatan dengan hari ulang tahun dirinya. Ide awalnya muncul karena Kak Awam melihat bahwa area bermain, belajar, dan beraktivitas untuk anak-anak mulai memudar pada zaman sekarang ini. Padahal menurutnya, usia anak memiliki intuisi personal dalam pencarian ruang yang dikehendaki. “Semua hal ini sangat saya perhatikan dalam membangun mental anak-anak melalui dongeng. Inilah yang membuat saya kemudian memberanikan diri membuka ruang bernama Kampung Dongeng,” ujar lelaki asal Blora Jawa Tengah ini.

KaDo bertempat di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan. Di tempat inilah, biasanya Kak Awam bersama istrinya, Bunda Ana menggelar aktivitas mendongeng bersama anak-anak. Tak hanya dari daerah sekitar, tetapi juga ada yang sengaja datang dari daerah lain, seperti dari Bandung. Meskipun pusat KaDo ada di dekat tempat tinggalnya, Kak Awam sering juga mendongeng dari satu daerah ke daerah lain seantero Nusantara. “Secara rutin KaDo berkegiatan dua kali dalam satu bulan. Setiap kegiatannya ada bermain kelompok, membuat kreativitas dan mendengarkan cerita. Bila bertepatan dengan hari-hari besar, kami menyelenggarakan lomba-lomba. Ini semua gratis untuk semua anak Indonesia,” jelas lelaki yang pandai menirukan beberapa suara ini.

Saking banyaknya undangan untuk mendongeng, Kak Awam kini dibantu beberapa teman sebagai stafnya yang berjumlah 8 orang. Salah satunya Kak Adul. Kak Adul pun sudah terbiasa ikut dalam aktvitas program mendongeng.

Jam terbang Kak Awam dalam mendongeng sudah ribuan kali. Dia begitu semangat mengkampanyekan budaya dongeng di mana saja, demi kemajuan pendidikan anak. Tak heran, kalau Kak Awam tampil sebagai pendongeng, anak-anak selalu ingin mengerumuninya. “Saya tidak membatasi peserta. Bahkan kami bermimpi setiap kegiatannya selalu dipadati ribuan anak-anak. Tapi sampai sejauh ini paling kurang lebih ya 300 anak-anak setiap kegiatan berlangsung,” pungkas lulusan STIE Ahmad Dahlan ini.(mmt)

 

Kampung Dongeng (KaDo)
Jl. Musyawarah RT.03/04 No. 26, Kampung Sawah, Ciputat-Tangerang
Tel 021-7491873

Halaman 1 dari 5

Baner