Friday, May 24th

Last update:09:01:42 PM GMT

You are here

Diary

Teringat akan Finn

E-mail Cetak PDF

Secara tidak sengaja, saat membongkar – bongkar tumpukan buku dan arsip lama, saya menemukan lagi buku berjudul Petualangan Huckleberry Finn. Dahulu saya pernah membaca buku klasik karangan Mark Twain ini. Beliau seorang pengarang besar asal Amerika Serikat dan diakui sebagai sumber dari segala sumber sastra modern di negeri Paman Sam sana. Saya pernah membaca bahwa pengakuan ini datang dari Hemingway, seorang peraih nobel sastra. 


Membuka kembali lembar demi lembar buku tersebut, saya seperti dibawa kembali ke satu perjalanan yang penuh arti dan kejutan. Buku ini pada dasarnya adalah tuturan tentang petualangan seorang anak tanggung dan merupakan kelanjutan dari buku Mark Twain sebelumnya, Petualangan Tom Sawyer.


Finn adalah seorang anak piatu yang hidup bersama ayah yang pemabuk. Ia mengalami siksaan lahir dan batin dari sang ayah yang senantiasa mengejar harta Finn (Finn mendapatkan harta karun bersama dengan Tom Sawyer yang diceritakan pada buku sebelumnya). Finn bahkan merencanakan sendiri pembunuhan palsu terhadap dirinya demi melepaskan diri dari siksaan sang ayah.


Dalam kondisi yang serba tidak pasti dalam pelarian, Finn bertemu dengan Jim, seorang budak kulit hitam yang melarikan diri untuk mendapatkan kebebasannya. Jalinan cerita kemudian membawa pembaca kepada petualangan mereka berdua dan dilema yang dialami oleh Finn. Cerita ini diterbitkan pada tahun 1885. Pada saat itu membantu budak melarikan diri merupakan dosa besar.  


Benturan nilai – nilai bertebaran dalam buku ini. Pengkhianatan dan persahabatan. Keserakahan dan kebaikan hati. Kelicikan dan kejujuran. Namun pesan dari cerita ini jelas. Hati nurani akan menunjukkan jalan saat kita menghadapi dilema. Dan seorang sahabat adalah mereka yang ada di kala susah dan membutuhkan kehadiran orang lain, meski ia sekedar hadir untuk mendengar dan menawarkan bantuan seberapapun kecilnya. A friend in need is a friend indeed.

Saya tersenyum di akhir cerita. Meski sempat berkaca –kaca juga saat membaca penderitaan Jim maupun Finn untuk mencapai tujuannya. Jim sang budak bisa bebas dan menjadi sahabat mereka (Finn dan Tom). Sungguh besar arti sebuah buku. Dan membacanya sangat memperkaya wawasan dan batin kita.  

Airin Rachmi Diany
Tangerang Selatan, 23 Januari 2011

Merangkai Masa Depan Dengan Pendidikan

E-mail Cetak PDF
Beberapa waktu lalu, saya memenuhi undangan peletakan batu pertama salah satu sekolah yang berlokasi di sekitar Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan. Seorang pakar manajemen, Bapak Rhenald Kasali, menyampaikan bahwa masa depan adalah sesuatu yang kita ciptakan secara bersama - sama. Anak – anak berkembang menjadi sesuatu yang diinginkan karena berbagai faktor, baik biologis (nature) maupun lingkungan (nurture), yang berkolaborasi untuk mengantarkan mereka menjadi seseorang.

Selain Pak Rhenald Kasali, hadir dalam acara tersebut adalah tokoh yang sangat peduli pada anak – anak, Kak Seto. Beliau memaparkan betapa setiap anak memiliki kecerdasan masing – masing yang bersifat unik. Kecerdasan setidaknya memiliki 8 (delapan) faset, yaitu: cerdas angka (numerik), cerdas kata (bahasa), cerdas gambar (spasial), cerdas musik, cerdas tubuh (kinestetik), cerdas teman (interpersonal), cerdas diri (intrapersonal), dan cerdas alam (natural). Masing – masing individu memiliki kecenderungannya sendiri yang mengarah pada satu dari 8 (delapan) jenis kecerdasan tersebut.   

Mendengar pembicaraan kedua pakar ini, pikiran saya melayang ke masa kecil saya sendiri saat saya masih menjadi seorang anak. Ada sedikit rasa geli saat saya menuliskan ini karena sampai saat ini pun, saat saya telah memiliki dua orang anak, kedua orangtua saya masih tetap memperlakukan saya bak seorang anak.  

Dulu, saya pernah pernah bertanya – tanya dalam hati mengapa bapak dan ibu sering mengarahkan saya untuk menjadi sesuatu. Sementara saya memiliki keinginan sendiri yang kadang tidak sesuai dengan keinginan yang mereka titipkan kepada saya. Saat remaja, pertentangan antara keinginan saya dan kedua orangtua saya kadang menimbulkan friksi. Namun Alhamdulillah, masa – masa tersebut justru menjadikan saya bertambah dewasa.

Jawaban dari pertanyaan saya tentang keinginan orangtua baru saya dapatkan setelah saya menikah dan menjadi ibu bagi kedua anak saya, Ghifari dan Ghefira. Naluri saya mendorong untuk melindungi mereka dan berusaha agar anak – anak tidak merasakan hal – hal yang kurang menyenangkan yang pernah saya alami sebelumnya. Oleh karena itu, saya mengarahkan mereka agar mengikuti “keinginan” saya.

Namun kembali saya tersadar bahwa sebagai anak, dahulu saya juga punya mimpi, harapan, dan cita – cita sendiri. Begitu juga dengan Kakang Ghifari, Ghefira, dan anak – anak lainnya. Mereka memiliki mimpi, harapan, dan cita – cita mereka sendiri yang sesuai dengan bakat, kemampuan, dan kecerdasan yang dimiliki dan diberikan oleh Allah SWT. Sebagai orangtua, saya hanya bisa mengarahkan, menjaga, dan memberikan kasih sayang sekaligus doa untuk anak – anak saya. Semoga mereka menjadi anak yang pintar, baik, cerdas, sholeh, dan sholehah, panjang umur, sehat badannya, berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa, tercapai cita – citanya, selalu ada dalam lindunganNya dan meraih serta mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kewajiban saya sebagai orangtua adalah memberikan perawatan dan pengasuhan yang terbaik untuk anak – anak. Kewajiban saya sebagai warga adalah memberikan lingkungan yang ramah bagi anak – anak. Saya membayangkan setiap rumah adalah tempat belajar dan bermain yang kondusif untuk anak – anak. Lebih jauh, saya menginginkan sebuah lingkungan dimana anak – anak dapat menyalurkan energi dan potensinya serta berkembang menjadi orang – orang yang kreatif, optimis, dan produktif.

Pendidikan adalah cara untuk menemukan potensi yang dimiliki oleh masing – masing anak agar mereka menemukan kecerdasan mereka sendiri seperti yang dipaparkan Kak Seto. Pendidikan juga merupakan sarana pengembangan yang memungkinkan berbagai faktor pendorong dan penarik bekerja untuk mengarahkan anak kepada sukses, seperti yang dinyatakan oleh Pak Rhenald Kasali.

Pendidikan, baik di rumah maupun di tingkat lingkungan, adalah hak dasar yang harus diberikan kepada setiap anak. Di rumah, hak ini harus diberikan oleh orangtua. Di tingkat lingkungan, hak ini harus dipenuhi dan disediakan oleh pemerintah dalam bentuk penyediaan fasilitas dan sistem untuk menjamin ketersediaan dan keberlangsungan pembelajaran. Setiap anak harus memiliki akses agar dapat bersekolah dan mencapai impian, harapan, dan cita – cita mereka. Setiap orangtua berhak untuk menitipkan harapan dan mendapatkan kesempatan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi anak – anak mereka. Dengan demikian, mimpi, harapan, dan cita – cita yang telah merekah dari masing – masing rumah, dari masing – masing keluarga, dapat tumbuh dan berkembang menjadi nyata untuk kemudian dapat dibagi dengan sesama.   

Airin Rachmi Diany
Tangsel, 03 Agustus 2010

Diary Airin; Pengalaman

E-mail Cetak PDF

Saat mengalami tekanan, pengalaman yang Anda miliki juga mempengaruhi fokus Anda dalam menghadapi masalah. Semakin Anda belajar dari pengalaman, kemampuan Anda untuk fokus pada pemecahan masalah semakin tinggi. Sebaliknya fokus kepada emosi lebih sering dialami oleh mereka yang kurang terbiasa dengan situasi yang menekan tersebut.

Namun banyaknya pengalaman tidak tidak serta merta menentukan seberapa banyak Anda belajar. 
Pengalaman yang panjang dan beragam tidak banyak berguna bila Anda tidak belajar dari pengalaman tersebut. Sebaliknya pengalaman yang relatif sedikit dapat berguna bila Anda belajar dan mengambil hikmah untuk mengubah diri Anda menjadi lebih baik melalui pengalaman tersebut.

Experience is the best teacher. But the point is not how many experiences you have,  but how much you've learned from them.

Selalu Berusaha, Berdoa meminta yg terbaik..

selamat bekerja, selamat berkarya

 

 

Airin Rachmi Diany

 

 

Bersihkan Diri Dengan Berpikir Positif

E-mail Cetak PDF

Minggu lalu, saya berkesempatan menemani Ghefira anak bungsu saya pergi memancing di salah satu kolam pemancingan yang terletak di Kelurahan Muncul, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan. Di tempat yang asri ini saya berkesempatan untuk mengajarkan sesuatu kepada Ghefira melalui kegiatan memancing.

Memancing memang unik. Kegiatan ini membutuhkan ketenangan, ketekunan, kecermatan, dan juga kesabaran agar mendapatkan hasil yang diinginkan. Sambil memperhatikan anak saya, pikiran saya melayang. Betapa hidup ini layaknya kegiatan memancing. Bagaimana dalam keadaan yang jauh dari ideal (menunggu dalam ketidakpastian hidup) kita dapat selalu berada dalam suasana hati bersih dan mendapatkan ketenangan batin? Berdasarkan pengalaman saya, kunci dari kebersihan diri dan ketenangan batin adalah berpikir positif.

Saya sempat berdiskusi dengan seorang sahabat mengenai kebiasaan ‘berpikir positif’. Ada perbedaan antara 'masalah' dengan 'pikiran yang negatif'. Masalah berdasarkan pada fakta. Pikiran negatif adalah 'cara' kita melihat masalah. Masalah dan pikiran yang negatif akan selalu ada dalam hidup manusia. Tapi pikiran negatif dapat dikendalikan dengan kekuatan pikiran dan iman.

Sebagaimana dengan iman, pikiran kita juga turun naik antara positif dan negatif. Oleh karena itu, pikiran harus dikendalikan secara penuh agar dapat membantu kita memecahkan masalah yang muncul. Dan kelengkapan berpikir positif yang paling penting adalah bersabar. Karena kesabaran akan membantu kejernihan pikiran dan pengendalian masalah. Diskusi kami pun berkembang ke konsep kesabaran. Kesabaran setidaknya memiliki 2 (dua) dimensi. Dimensi pertama, kesabaran adalah cara kita menghargai diri kita. Kalau kita tidak bersabar, kita akan cenderung merusak kehormatan kita. Dimensi yang kedua adalah cara kita menghargai Allah. Kesabaran adalah alat yang diberikanNya untuk menghadapi persoalan. Dan kita harus memanfaatkan alat itu dengan sebaik-baiknya. Kadang tidak semua masalah memiliki solusi. Namun dengan kesabaran masalah kadang tidak lagi menjadi masalah. Alangkah indahnya hidup bila kita selalu berpikir positif dan menghadapi semuanya dengan kesabaran. Kita akan menjalani semuanya dengan ringan.

InsyaAllah ........ mudah2xan kita bisa menjalaninya..........berusaha dan berdoa....

Memaknai Kehidupan

E-mail Cetak PDF

"Hidup dan mati sudah ditakdirkan – sama konstannya dengan terjadinya malam dan subuh… manusia tidak dapat berbuat apapun tentangnya" (Lao Tzu). Bagi saya makna kata dari Lao Tzu- seorang filosof China ini adalah kita memang tidak bisa berbuat apapun terhadap hidup dan mati, tapi kita bisa berbuat yang terbaik untuk ummat dalam kehidupan ini sebagai bekal kelak kemudian jika sudah mati.


Janganlah Senang Melihat Orang Lain Susah

E-mail Cetak PDF

Saat saya bertemu dengan masyarakat yang mengalami kesusahan, saya jadi teringat sebuah kalimat yang harus dijauhi oleh seorang pemimpin. Yaitu kalimat: "senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang". Pemimpin harus mempunyai prinsip; senang melihat orang lain senang dan susah melihat orang lain susah.

Baner