KOTA Tangerang Selatan (Tangsel) sejak ditetapkan sebagai Kota otonom termuda di Provinsi Baten pada 26 November 2008, terus berbenah diri. Salah satunya mengoptimalkan potensi pertanian.
Walaupun isu aktual yang terus menghantui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Tangsel adalah “alih fungsi lahan pertanian”, namun usaha pengembangan pertanian diarahkan pada pertanian perkotaan. Yakni suatu pertanian agrobisnis yang menuju agrowisata.
“Saat ini potensi sumber daya alam atau lahan pertanian Kota Tangsel seluas sekitar 2.895,95 hektar (Ha). Lahan itu terdiri dari dari lahan darat 2.496,25 Ha, lahan sawah 177 Ha, lahan perikanan 137,43 Ha dan lahan eks Galian C 15,27 Ha,”ujar Mursan Sobari, Kepala Distan KP Kota Tangsel.
Pengelola potensi daya alam tersebut dilakukan oleh 318 kelompok tani, 28 kelompok pembudidaya ikan dan 19 kelompok peternak yang tersebar di tujuh kecamatan Kota Tangsel, yakni Serpong, Serpong Utara, Setu, Pamulang, Ciputat, Ciputat Timur dan Pondok Aren.
Pembangunan pertanian pada dasarnya merupakan upaya mendorong berkembangnya usaha pertanian untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Khususnya para petani dengan upaya-upaya pembangunan yang dilaksanakan oleh Distan KP melalui berbagai kebijakan. Kebijakan yang dilaksanakan Distan KP antara lain melalui Strategi Peningkatan Produksi Pertanian.
Pertama dilakukan peningkatan produktivitas melalui pemakaian benih varietas unggul bermutu, contohnya penanaman padi unggul Mutasi Nuklir atau Sidenuk yang pada musim tanam 2011–2012 ditanam sekitar 40 Ha dan 3 Ha sebagai percontohan. Kemudian untuk pemanfaatan lahan pekarangan, pemanfaatan lahan tidur, pemupukan berimbang dan pemakaian pupuk organik. Serta pupuk bio-hayati, perbaikan budidaya serta pengawalan, pemantauan dan koordinasi dengan para pihak yang terkait.
Kedua, dilakukan pengamanan produksi yakni dengan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), pengamanan kualitas produksi dari residu pestisida. Serta mengurangi kehilangan hasil pada saat penanganan panen dan pasca panen.
Ketiga peningkatan Apresiasi Teknologi dengan melalui pelatihan-pelatihan atau sekolah lapang. Diharapkan terjadi transfer teknologi kepada petani, penggunaan sarana pertanian modern. Misalnya penggunaan traktor, penerapan pertanian hidroponik. Sehingga petani mempunyai beberapa alternatif pilihan teknologi. “Sehingga mereka lebih dapat memutuskan cara bercocok tanam, mana yang lebih tepat untuk diterapkan di Kota Tangsel,”tandasnya Mursan.
Untuk mengoptimalkan usaha pertanian dibutuhkan strategi peningkatan usaha hasil pertanian. Diantaranya, strategi peningkatan usaha hasil-hasil pertanian diarahkan pada peningkatan pengolahan pasca panen. Dengan memfasilitasi para pelaku usaha tani melalui pemberian bantuan sarana prasarana pengolahan berbahan baku hasil pertanian dan peningkatan cara pengemasan (packing).
Kemudian, dilakukan juga pemanfaatan fasilitas media massa, baik cetak maupun elektronik. Sehingga berdampak pada peningkatan permintaan pasar. Kemudian, pengorganisasian kelembagaan dan peningkatan SDM, melaksanakan temu usaha antar pelaku usaha pertanian, melaksanakan magang, studi banding dan pameran/promosi, melaksanakan koordinasi lintas sub sektor dan stakeholder. Terakhir menciptakan mekanisme pasar global yang dapat diakses langsung oleh para konsumen seperti internet.
Sementara potensi pengembangan holtikultura di Kota Tangsel masih sangat besar. Karena terdapat beranekaragaman varietas yang banyak diminati masyarakat. Serta didukung oleh iklim dan kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangan aneka tanaman holtikultura, seperti buah-buahan, sayuran, tanaman obat dan tanaman hias, contohnya Anthurium, Aglonema, Sansiviera dan berbagai jenis anggrek.
Mursan juga mengungkapkan, terkait pengembangan usaha Anggrek sebagai suatu usaha pertanian penduduk Kota Tangsel, secara historis merupakan usaha pertanian yang dikembangkan sejak tahun 1985 dan diwariskan para orang tua petani anggrek tersebut. “Saat ini setelah Kota Tangsel ditetapkan sebagai daerah otonom baru, Anggrek telah ditetapkan sebagai ikon Kota Tangsel,”tandas Mursan.
Sebagai suatu ikon, tentunya potensi anggrek dan peluang usaha tani di Kota Tangsel cukup baik dan menggembirakan. Anggrek, tersebar di titik-titik tertentu di tujuh kecamatan, seperti Kecamatan Pamulang, yang merupakan sentra
Anggrek tanah. Bahkan banyak dibudidayakan oleh penduduk Kelurahan Pondok Benda dengan luas lahan 15 Ha dan diusahakan 8 kelompok tani dengan anggota 151 orang. “Varietas anggrek yang dibudidayakan di sana adalah Douglas, James Storry dan Kala Jengking,”jelasnya.
Kemudian di Kecamatan Serpong juga ada pengembangan usaha budidaya Anggrek tersebar di empat kelurahan yakni Kelurahan Buaran, pengembangan usaha budidaya Anggrek seluas lahan 3 Ha, diusahakan oleh tiga kelompok dengan anggota 27 orang. Kemudian, Kelurahan Serpong, pengembangan usaha budidaya Anggrek di atas lahan seluas 1,28 Ha dan diusahakan oleh dua kelompok dengan anggota 19 orang. Selanjutnya, di Kelurahan Rawa Buntu, pengembangan usaha budidaya di atas lahan seluas lahan 2 Ha dan diusahakan oleh dua kelompok dengan anggota 19 orang. Terakhir di Kelurahan Lengkong Gudang, budidaya Anggreknya di atas lahan seluas 2 Ha yang diusahakan oleh satu kelompok dengan anggota tujuh orang.
Selain itu juga, Kecamatan Setu pengembangannya tersebar di Kelurahan Setu, yang juga menjadi wilayah pengembangan usaha budidaya Anggrek di atas lahan seluas 2,2 Ha yang diusahakan oleh satu kelompok dengan anggota 16 orang. Serta di Kelurahan Muncul yang usaha pengembangannya dilakukan oleh satu kelompok dengan anggota 5 orang di atas lahan seluas 0,45 Ha.
“Untuk mendukung kebijakan Walikota Tangsel yaitu menjadikan Anggrek sebagai ikon Tangsel, maka pengembangan Anggrek ditekankan pada titik-titik yang sudah ada. Kemudian dijadikan klaster Anggrek, tentunya dengan penataan yang rapih. Mulai dari jalannya hingga pintu masuk ke lokasi Anggrek,”papar Mursan.
Sehingga klaster Anggrek akan tertata rapih dan kedepannya akan menjadi area wisata Anggrek yang menarik untuk dikunjungi masyarakat. Klaster Anggrek Kota Tangsel ada di Kelurahan Lengkong Gudang Kecamatan Serpong, Kelurahan Pondok Benda Kecamatan Pamulang dan Desa Setu Kecamatan setu.
Pengembangan Anggrek juga akan dilaksanakan di kawasan BPP Jombang di atas lahan seluas 6.000 meter persegi, yakni jenis Anggrek Dendrobium dan jenis Anggrek Tanah. “Kegiatan pengembangan anggrek juga akan dilaksanakan di area pertanian terpadu di RTH BSD City Sektor 12. Hal itu merupakan lahan hasil penyerahan fasos fasum seluas 10,3 Ha,”ungkapnya.
Kemudian untuk mendorong percepatan pertumbuhan usaha tani, baik pada tanaman pangan maupun holtikultura, sejumlah upaya dilakukan oleh Distan KP diantaranya, selalu memberikan penyuluhan/informasi kepada masyarakat petani, memberikan bantuan benih/bibit berkualitas, pupuk, pestisida dan sarana pengelolaan pertanian, sesuai dengan anggaran yang tersedia. “Kami juga mendorong agar masyarakat dapat meningkatkan minat dengan memanfaatkan lahan yang ada untuk ditanami tanaman yang bermanfaat,”pungkasnya. (gb/mus)