Wednesday, Jun 19th

Last update:09:01:42 PM GMT

You are here

Airin Dalam Media

Tangsel Tata Manajemen Sampah

E-mail Cetak PDF
PEMERINTAH Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) sedang merancang manajemen pengelolaan persampahan. Langkah itu dilakukan menyusul beroperasinya tahap pertama Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Setu, Tangsel.

Wali Kota Tangsel, Airin Rachmi Diany, mengatakan tiga tahun setelah Kota Tangsel dimekarkan. Akhirnya, wilayah itu telah menyelesaikan pengoperasian tahap pertama TPA Cipeucang, tahun ini. Tahun depan secara bertahap pengoperasian tahap kedua TPA Cipeucang akan terlaksana. "Pembangunan TPA Cipeucang tahan pertama sudah diselesaikan dan mulai berlaku," kata Airin kepada Jurnal Nasional, Kamis (13/12).

Dengan beroperasinya tahap pertama TPA Cipeucang, saat ini pemerintah daerah (pemda) sedang menata persoalan sampah di Tangsel dengan manajemen sampah. Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakaman Kota Tangsel, ditekankan membuat side plan tersebut.

Konsepnya, mengatur jalur armada sampah mengangkut kubik sampah pada titik-titik penumpukan sampah menuju TPA Cipeucang. Manajemen persampahan mencoba melihat kesiapan pemda menghadapi masalah sampah dari tiga sampai 10 tahun ke depan, setelah TPA itu beroperasi. "Manajemen persampahan ini tidak hanya menyiapkan lahan TPA. Tetapi jalur armada sampah harus diatur menuju TPA," kata Airin.

Namun pemda tidak bisa berdiri sendiri mengatasi permasalahan sampah yang menumpuk di tujuh Kecamatan di Tangsel. Airin mengatakan pemda membuka kerja sama dengan pihak ketiga dalam penanganan sampah didaerah tersebut. Termasuk meminta tambahan anggaran dari pemerintah pusat untuk memaksimalkan pengoperasian tahap kedua TPA Cipeucang.

"Masalah sampah di Tangsel tidak bisa kami selesaikan sendiri. Kami membuka pintu bagi pihak ketiga untuk bekerja sama, membantu mengatasi persoalan sampah di sini," kata Airin. [mus]

Sumber: Jurnas

Orangtua Harus Jadi Teladan PHBS

E-mail Cetak PDF

Semarak peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) terlihat di halaman kantor Walikota Tangsel, Jumat (18/11). Mulai pukul 06.30 WIB, la­pa­ngan yang biasanya sepi sudah dipe­nuhi oleh puluhan orang dan terdengar alunan musik dari depan po­dium yang meng­hadap ke timur.

Tak lama kemudian, acara peri­ngatan pun dimulai. Walikota Tangsel, unsur Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), dan kader Posyandu se-Kota Tangsel, melaku­kan senam bersama. Dan tentunya, tidak ketinggalan jajaran pegawai Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tang­sel sebagai pemangku kegiatan.

Setelah senam pagi usai, acara dilan­jutkan dengan seremonial peringatan HKN Kota Tangsel. Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany mengajak kepada seluruh masya­rakat Tangsel untuk mem­biasakan diri berperilaku hidup se­hat. Dengan cara dimulai dari ska­la kecil di rumah tangga dan keluarga.

“Karena, PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) ini menjadi pilar pertama untuk menjadikan masyarakat Kota Tangsel menjadi sehat,” katanya.

Airin juga mengatakan bahwa PHBS itu bisa diterapkan dengan cara pembiasaan dari orangtua.  Yakni orangtua menjadi tauladan bagi anaknya. Sehingga anak dalam keluarga itu bisa mencontoh pe­rilaku itu hingga dewasa kelak.

“Orangtua harus bisa memberi contoh kepada anaknya, bagaimana cara hidup yang sehat dan bersih,” tuturnya.

Usai memberi sambutan dan setelah acara ditutup doa, Airin pun menyempatkan diri melongok beberapa stand yang berisi fasilitas dari posyandu yang ada di Kota Tangsel. Misalnya Posyandu Knoc Down yang terpasang di ujung timur lapangan itu, saat itu mengadakan donor darah.

Kemudian, Airin juga memeriksa kendaraan elf yang baru saja dite­rima Dinkes Tangsel. Serta motor keliling (torling) Dinkes Tangsel juga baru dibeli Dinkes Tangsel. Kepala Dinkes Kota Tangsel Dadang M Epid menambahkan, selama ini pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat.

Usaha itu berhasil karena meningkatnya beberapa indikator kesehatan yang ada. “Seperti angka kematian ibu di Kota Tangsel, saat ini perbandingannya hanya 44/100 ribu orang juga angka kematian bayi yang perbandingannya 3,3/1.000 kelahiran bayi,” katanya menerangkan. (radarbanten/mus)

Airin Rachmi Diany, Wali Kota Tangerang Selatan dan Hobi Gowesnya

E-mail Cetak PDF
Hobi gowes tidak hanya melanda remaja, Wali kota Tangerang Selatan (Tangsel) Airin Rachmi Diany pun tertular virus sehat ini. Berawal dari keinginan seorang ibu yang mengetahui aktivitas keseharian sang anak, Airin perlahan mulai jatuh hati. Bahkan aktivitas gowes pun akan dicanangkan di setiap kedinasan dalam melakukan pemantauan daerah.

TB. Ghifari Al Chusaeri Wardana, putra pertama Airin Rachmi Diany sedang getol-getolnya bersepeda fixie. Bahkan dia tergabung dalam komunitas sepeda yang terdiri dari beberapa rekan sepermainan. Sebagai seorang ibu, rasa khawatir akan per-gaulan anak terbesit dibenak. Meski setiap hendak berpergian selalu meminta izin, toh khawatir kejadian tidak diinginkan menimpa sang anak saat memacu bersepeda selalu menghinggapi diri Airin.

"Anak saya sedang hobi-hobinya main sepeda jenis fixie. Mereka bergerombol bersepeda kemana-mana," ujar Airin, wali kota perempuan pertama se-kota/kabupaten di Provinsi Banten ini.

Sebagai ibu, beberapa kali sang anak mengajak untuk bermain sepeda bersama. Lagi, naluri ibu untuk mengetahui seperti apa rupa dan rasa hobi bersepeda sang anak memunculkan keinginan untuk merasakan langsung. Bersama suami IH Chaeri Wardana dan putrinya, Ratu Ghefira Marhamah Wardana, kegiatan bersepeda pun mulai dilaksanakan bersama.

"Akhirnya bersepeda mulai menjadi rutinitas keluarga di akhir pekan," ujar Airin kepada INDOPOS.

Salah satu lokasi bersepeda yang menjadi favorit keluarga, yakni linta-san Jalur Pipa Gas (JPG). Apalagi lokasi lintasan tersebut tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga yang berada di Perumahan Alam Sutera. Tentunya pilihan jenis sepeda jatuh pada mountain bike (MTB). Setiap akhir pekan, bersama sang suami dan kedua buah hati, pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB, kebersamaan dilalui di perlintasan JPG.

"Soal lintasan favorit saya suka yang mendaki. Saat melaju di area mendaki, terasa filosofi sabar. Perlahan mengowes dan akhirnya sampai," terangnya.

Bagaimana dengan perlengkapan peralatan saat bersepeda? Airin mengatakan, helm merupakan instrumen yang wajib harus ada. Karena meski terlihat sepele, helm merupakan salah satu pelindung kepala yang paling utama saat melaju menggunakan sepeda. Khusus bagi putri bungsu, Airin mengatakan sebelum bersepeda, body protector, helm, dan pengaman lutut wajib sudah harus terpasang. Lalu, sebelum sekeluarga melakukan mengarungi lintasan JPG, pemanasan berupa olahraga santai pun wajib dilakukan. Setidaknya mencegah terjadinya kram pada bagian tubuh.

Dari hobi sehat bersepeda di perlintasan JPG, membawa inspirasi bagi wali kota yang menyelesaikan studi Sl di Universitas Parahyangan Bandung itu untuk merealisasikannya di Pemerintahan Kota Tangsel. Apalagi sudah ada agenda rutin satu bulan sekali seluruh kepala dinas dan jajarannya untuk melakukan pemantauan langsung ke tingkat kelurahan dan kecamatan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat.

"Setiap bulan ada agenda rutin pemantauan ke kelurahan dan kecamatan oleh jajaran Pemkot Tangsel. Nah sekalian untuk menyehatkan badan dan juga mem-peretat silaturahmi dengan masyarakat, maka sepeda menjadi transportasi yang paling pas untuk berkeliling Tangsel," terang Airin.

Ke depannya Airin pun akan terus memperjuangkan konsep pelaksanaan car free day di Tangsel. Termasuk juga pemaksimalan jalur sepeda yang memang sudah di buat oleh beberapa pengembang. "Bersepeda itu sehat. Karena itu, uifrastrukrurnva akan dicoba ditata lebih baik lagi. Jadi masyarakat hingga pegawai di lingkup Pemkot juga bisa menjadikan sepeda sebagai alternatif transportasi yang efektif," terang adik ipar Gubernur Banten ini. (King Hendro Arifin, Indopos)

Airin Rachmi Diany, Memimpin Sebagai Ibu

E-mail Cetak PDF
Wali Kota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany, saat wawancara bersama Harian Kompas dan Kompas.com di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Jumat (29/7/2011).KOMPAS.com - Perempuan punya peran dan tugas besar di rumah tangga. Perempuan, terutama sebagai ibu dalam rumah tangga dikenal multitasking, sanggup menjalani dan menyeimbangkan semua peran yang dijalankannya. Seorang ibu memastikan semua anggota keluarganya terpenuhi kebutuhannya, dan tumbuh serta berkembang lebih baik. Peran dan karakter ibu ini juga diaplikasikan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dalam memimpin Pemerintah Kota Tangerang Selatan.

Berpikir dan bertindak sebagai ibu


"Menjadi pemimpin perempuan bukan berarti tanpa kendala. Namun saya menjalankannya seperti ibu di rumah, hanya saja peran saya lebih besar karena memimpin rumah yang lebih luas. Layaknya ibu, jika ada anak yang mengeluh, tugas ibu mendengarkan dan membantunya. Saat ada demonstrasi, para demonstran ini layaknya anak yang sedang mengeluh kepada ibunya, dan harus didengarkan apa maunya," jelas Airin kepada Kompas Female di Hotel Mulia, Jakarta beberapa waktu lalu.

Ibu dari Ghifari Wardana (13) dan Ghefira Wardana (6) ini memimpin kota pemekaran dari kabupaten Tangerang provinsi Banten dengan populasi hampir 1,3 juta jiwa.

Dalam pandangan Airin, sama seperti tugas ibu di rumah, meski sudah berusaha memberikan yang terbaik, ibu tak bisa memuaskan semua orang. Karenanya, dalam menjalani peran sebagai Wali Kota, Airin tak lantas membebani dirinya dengan berbagai kebutuhan dan keinginan warganya. Sebaliknya, perempuan yang pernah berprofesi sebagai notaris ini justru lebih jeli memerhatikan kebutuhan kota dan warga yang dipimpinnya.

Dalam bincang-bincang bersama Harian Kompas dan Kompas.com, Airin mengutarakan berbagai program, baik yang direncanakan mau pun yang sudah diaplikasikan, dalam seratus hari kepemimpinannya.

Layaknya ibu yang terbiasa berpikir kompleks dan selalu memerhatikan detil setiap kebutuhan keluarga, Airin merencanakan detil setiap ide dan rencana yang ingin diwujudkannya memajukan Kota Tangerang Selatan. Mulai masalah sampah dan pengolahannya, gaya hidup hijau dengan jalur sepeda dan car free day, isu infrastruktur, tata ruang kota, kawasan pemukiman, berbagai isu diperhitungkannya dengan detil dan terencana.

"Semua memang masih tahap rencana, semoga saya bisa mewujudkannya segera," harapnya.

Perempuan punya potensi


Airin mengaku tak memiliki latar belakang atau pengalaman di bidang politik. Namun ia memiliki mentor yang menguatkannya untuk berkiprah di panggung politik dan sukses meraih kursi kepemimpinan tertinggi di kota Tangerang Selatan.

"Saya belajar dari kakak ipar saya ibu Atut (Gubernur Banten -RED), beliau adalah mentor saya. Selain juga ibu Megawati dan Sri Mulyani, mereka adalah perempuan sumber inspirasi," katanya.

Menurut Airin, tak ada diskriminasi yang melemahkannya sebagai perempuan dalam berkiprah di ranah publik, bahkan untuk meraih tampuk kepemimpinan. Serupa seperti banyak perempuan yang berkiprah di ruang publik, tantangan terbesar yang dialaminya adalah lebih kepada pembagian waktu antara peran publik dan peran domestik.

"Tantangan terbesar bagi saya adalah membagi waktu dengan keluarga. Karenanya saya selalu membuat skala prioritas dalam segala hal dan disiplin waktu," tutur mantan Puteri Indonesia Jawa Barat 1996 ini.

Ibu yang jeli

Kepemimpinan Airin yang menonjolkan peran ibu bagi warganya, justru membuatnya lebih peka untuk menyentuh kebutuhan banyak orang. Salah satu program yang digulirkannya terinspirasi dari peran ibu adalah "Gerakan Ibu Membaca untuk Anak". Program ini resmi diluncurkannya pada Hari Anak 23 Juli 2011 lalu.

"Gerakan ini mengajak para orangtua, terutama ibu, agar menyempatkan waktu membaca untuk anak jika ingin memiliki anak yang lebih peka terhadap sekitarnya," jelas Airin.

Perempuan yang gemar bersepeda ini merasakan secara pribadi dampak membacakan cerita kepada anak. "Anak pertama saya biasa dibacakan buku cerita. Ia tumbuh lebih peka. Sebagai ibu, saya merasa diperhatikan olehnya. Anak terlatih kepekaannya dengan kebiasaan membaca," lanjutnya.

Pengalaman pribadi sebagai ibu menjadi inspirasi dalam kepemimpinan Airin. Sederhana saja, jika putranya bisa mendapat manfaat dari membaca buku, maka anak-anak lain di Tangerang Selatan pun juga bisa menikmati manfaat membaca dan bercerita dari buku.

Seperti ibu yang ingin anak-anaknya sukses di masa mendatang, Airin menginginkan warganya berkembang dengan kemandirian. Pengetahuan dan pelatihan keterampilan menjadi fokusnya. Seiring dengan gerakan membaca, pemerintahan yang dipimpinnya juga menggalakkan perpustakaan keliling.

"Saat ini ada 35 perpustakaan keliling di tujuh kecamatan. Perpustakaan keliling ini tak hanya menyediakan buku, namun juga audiovisual, selain juga pelatihan untuk para orang tua. Jadi saat anak membaca buku, orang tua juga mendapatkan manfaat dengan mengikuti pelatihan membuat kerajinan tangan," jelas Airin yang mendorong kemandirian ekonomi melalui usaha kecil menengah berbasis industri rumahan yang punya potensi besar di Tangerang Selatan. (Kompas.com)

Airin Rachmi Diany, Leading For Mom

E-mail Cetak PDF
Women have a greater role and duties in the household. Women, especially as a mother in the household is known multitasking , capable of undergoing and balancing all the roles slayings. A mother to make sure all family members met their needs, and grow and grow better. The role and character of the mother is also applied to South Tangerang Mayor Airin Rachmi Diany in leading the Government of South Tangerang city.

Think and act as a mother


“Being a female leader is not without obstacles. But I run it like a mother at home, only bigger because of my role to lead the broader home. Like mother, if there are children who complain, the task of listening and helping mothers. When there are demonstrations, the protesters like the child who was complaining to his mother, and had heard what he wants, “said Airin to Female Compass at the Hotel Mulia, Jakarta some time ago.

Mother of Ghifari Wardana (13) and Ghefira Wardana (6) is leading the expansion of the city of Tangerang regency of Banten province with a population of nearly 1.3 million inhabitants.

In view Airin, just like at home mom duties, though it was trying to give the best, the mother can not satisfy everyone. Therefore, in the lead role of Mayor, Airin not necessarily burden themselves with various needs and desires of its citizens. Conversely, women who once worked as a notary public is even more observant to notice the needs of the city and the citizens they lead.

In a talk with Daily Compass and Kompas.com , Airin express a variety of programs, both planned would ever have been applied, in a hundred day leadership.

Like a mother who used to think the complex and always noticed the details of each family’s needs, Airin plan details every idea and plan to promote the accomplishment of South Tangerang city. Start the waste problem and its processing, green lifestyle with bicycle lanes and car free day , the issue of infrastructure, urban spatial structure, residential areas, various accounting issues in detail and planned.

“All the stage is still the plan, hopefully I can make it happen soon,” he hoped.

Women have the potential


Airin admitted to not having a background or experience in the field politics. But he has a mentor who sustain her to take part in politics and successfully won the seat in the supreme leadership of South Tangerang city.

“I learned from my sister in law’s mother Atut (Banten Governor-RED), he is a mentor me. Besides also the mother of Megawati and Sri Mulyani, they are women a source of inspiration, “he said.

According Airin, there is no discrimination that weaken it as a woman in acting in the public domain, even to grab the reins of leadership. Similar to many women who work in the public space, the biggest challenge they experienced was more to the division of time between the roles of public and domestic roles.

“The biggest challenge for me is to share time with family. Therefore I always make a priority scale in every respect and discipline of time, “said former Puteri Indonesia West Java 1996.

Mother jelly


Leadership Airin that highlight mother’s role for its citizens, it makes it more sensitive to the touch needs a lot of people. One program that digulirkannya inspired by the mother’s role is “Movement Mother Reading to Children“. The program was officially launched on Children‘s Day last July 23, 2011.

“This movement invites the parents, especially mothers, to take the time to read to a child if you want to have children who are more sensitive to its surroundings,” explains Airin.

Women who love this bike personally felt the effects of reading stories to children. “The first child I used to read storybooks. He grew more sensitive. As a mother, I feel cared for by him. Children trained sensitivity with reading habits, “he continued.

Personal experience as a mother was the inspiration in leadership Airin. Quite simply, if her son could benefit from reading the book, then the other children in South Jakarta was also able to enjoy the benefits of reading and telling stories from books.

As mothers who want their children to succeed in the future, Airin wants its citizens develop independence. Knowledge and skills training is the focus. Along with reading the motion, which led the government is also promoting the bookmobile.

“Currently there are 35 mobile libraries in the seven districts. This library not only provides books, but also audiovisual, as well as training for parents. So when children read books, parents also benefit from training to make crafts, “said Airin that encourages economic self-sufficiency through small and medium-based cottage industry has great potential in South Jakarta. (www.WomanAndHome.org)

Halaman 1 dari 21

Baner